KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan inflasi diperkirakan masih membayangi perekonomian Indonesia hingga akhir 2026. Meski laju inflasi diproyeksikan tetap berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI), sejumlah faktor risiko seperti pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), potensi kemunculan El Niño, hingga ketegangan geopolitik global dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga. Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memperkirakan inflasi Indonesia pada akhir 2026 akan mencapai 3,13% secara tahunan (year on year/yoy). Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa pemerintah tetap mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini.
Menurut Faisal, tekanan inflasi ke depan masih didominasi oleh faktor-faktor dari sisi penawaran (supply side). Dari dalam negeri, berbagai kebijakan pemerintah yang berorientasi pada percepatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkatkan jumlah uang beredar (M2), yang pada akhirnya dapat memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap komoditas pangan. Jika kenaikan permintaan tersebut tidak diimbangi oleh peningkatan produksi pertanian dan penguatan rantai pasok, maka inflasi pada kelompok harga bergejolak (volatile food) berpotensi meningkat.
Baca Juga: MK Putuskan Anggaran MBG Harus Dipisah dari Anggaran Pendidikan Mulai APBN 2028 "Program MBG yang sedang berlangsung kemungkinan akan memperkuat permintaan pangan, menimbulkan risiko kenaikan inflasi harga yang berfluktuasi kecuali disertai dengan peningkatan yang cukup dalam produksi pertanian dan ketahanan rantai pasokan," ujar Faisal kepada Kontan, Kamis (30/7/2026). Faisal juga mengingatkan potensi munculnya fenomena El Niño berkekuatan tinggi atau yang kerap dijuluki Godzilla El Niño perlu menjadi perhatian. Fenomena tersebut berpotensi mengganggu produksi pertanian, mengurangi pasokan pangan, serta mendorong kenaikan harga bahan pangan yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi. Di sisi eksternal, Faisal menilai risiko inflasi masih cukup tinggi seiring ketidakpastian global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Menurutnya, kondisi tersebut telah mendorong investor mengambil sikap lebih berhati-hati, sehingga aliran modal masuk ke negara berkembang menjadi lebih terbatas dan nilai tukar rupiah menghadapi tekanan pelemahan. Dampaknya, risiko inflasi impor meningkat karena kenaikan biaya bahan baku impor mulai diteruskan oleh produsen kepada konsumen. "Inflasi sisi penawaran telah melampaui inflasi sisi permintaan, menunjukkan peningkatan risiko penerusan biaya produsen ke harga konsumen karena biaya input, khususnya untuk bahan baku impor, terus meningkat," jelasnya.
Baca Juga: Inflasi Tahunan Juli Diramal Turun ke 3,08%, Harga Pangan Mereda Jadi Pemicu Meski proyeksi dasar inflasi masih berada di sekitar 3,13% hingga akhir tahun, Faisal menegaskan proyeksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan kondisi global. Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga energi dunia dapat mengubah prospek inflasi secara signifikan.
Apabila pemerintah pada akhirnya harus melakukan penyesuaian harga energi bersubsidi, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat lebih tinggi dibandingkan proyeksi saat ini. Kondisi tersebut juga berpotensi membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. “Pada tahap ini, kami tidak mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga BI lainnya pada tahun 2026 jika kondisi memburuk lebih lanjut,” ujarnya. Meski demikian, dalam skenario dasar, Faisal masih memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% hingga akhir 2026. Menurutnya, kenaikan suku bunga yang telah dilakukan sebelumnya dinilai sudah mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada kuartal IV 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News