Inflasi AS Diprediksi Melonjak 3,6% pada September 2026, Harga BBM Jadi Pemicu



KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Inflasi Amerika Serikat (AS) diperkirakan meningkat pada September 2026 seiring kenaikan harga bensin dan pangan. Lonjakan biaya hidup tersebut menambah tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada 3 November 2026.

Laporan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu (14/10/2026) menjadi perhatian pasar dan pembuat kebijakan. Publikasi ini menyusul sejumlah survei yang menunjukkan penurunan sentimen konsumen serta merosotnya tingkat persetujuan terhadap Trump di tengah meningkatnya keluhan masyarakat mengenai biaya hidup.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 78% warga Amerika menyalahkan kebijakan Trump, termasuk tarif impor dan perang AS-Israel dengan Iran, atas kenaikan harga yang melampaui pertumbuhan upah.


Meski demikian, laporan CPI diperkirakan menunjukkan kenaikan yang lebih moderat pada harga-harga di luar komponen pangan dan energi yang bergejolak. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi urgensi bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk kembali menaikkan suku bunga pada Oktober ini.

Baca Juga: Rusia Serang Kyiv dengan Rudal Balistik, Zelensky Tuduh Langgar Gencatan Senjata 

Profesor keuangan dan ekonomi Loyola Marymount University, Sung Won Sohn, mengatakan perlambatan inflasi inti belum tentu memberikan kelegaan bagi konsumen karena kebutuhan pokok tetap mengalami kenaikan harga.

"Masyarakat peduli terhadap harga pangan dan energi. Itulah yang mereka rasakan setiap hari," kata Sohn.

Ia menambahkan, banyak pemilih berada di kelompok bawah dalam ekonomi berbentuk K (K-shaped economy), yakni kondisi ketika pemulihan ekonomi memberikan hasil berbeda bagi kelompok masyarakat. Sebagian kelompok mengalami peningkatan kesejahteraan, sedangkan kelompok lainnya justru menghadapi tekanan ekonomi.

"Mereka menderita akibat kenaikan harga energi dan pangan, dan saya memperkirakan hal itu akan berdampak terhadap hasil pemilu, karena banyak orang tampaknya berpandangan demikian," ujarnya.

Inflasi AS Diperkirakan Naik 0,6% pada September

Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan CPI AS meningkat 0,6% secara bulanan pada September 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus.

Sejumlah ekonom memperkirakan harga bensin menyumbang sekitar 0,3 poin persentase terhadap kenaikan CPI. Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan harga bensin melonjak 7,1% pada September.

Sementara itu, harga pangan diperkirakan meningkat sedikitnya 0,2%, setelah mencatat kenaikan masing-masing 0,1% selama dua bulan berturut-turut.

Secara tahunan, inflasi AS diproyeksikan mencapai 3,6% pada September, meningkat dari 3,4% pada Agustus.

Meski CPI menjadi indikator penting untuk memantau tekanan harga yang dirasakan masyarakat, The Fed menggunakan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE Price Index) sebagai acuan utama dalam mencapai target inflasi sebesar 2%.

Laporan inflasi September juga dinantikan jutaan pensiunan dan penerima tunjangan Jaminan Sosial AS (Social Security) untuk memperkirakan besaran kenaikan manfaat yang akan diterima pada 2027.

Administrasi Jaminan Sosial AS menggunakan data CPI untuk pekerja perkotaan dan pegawai administrasi (Consumer Price Index for Urban Wage Earners and Clerical Workers/CPI-W) pada kuartal III 2025 hingga kuartal III 2026 untuk menentukan penyesuaian biaya hidup tahunan (Cost-of-Living Adjustment/COLA).

Program tersebut memberikan manfaat kepada warga lanjut usia yang telah pensiun, penyandang disabilitas, serta janda, duda, dan anak-anak yang memenuhi persyaratan.

Senior Citizens League, salah satu organisasi warga lanjut usia terbesar di AS, memproyeksikan kenaikan COLA sebesar 3,5% pada 2027. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penyesuaian 2,8% pada 2026.

Baca Juga: Filipina Ingatkan Asia untuk Waspadai Krisis Keuangan Susulan, Ini Alasannya

Jika proyeksi tersebut terealisasi, rata-rata manfaat bulanan pensiunan diperkirakan meningkat US$ 67,90 menjadi US$ 2.007.

Lonjakan Harga Energi Berpotensi Menular ke Harga Pangan

Perkembangan harga energi menjadi perhatian utama karena dampaknya berpotensi meluas dari sektor transportasi ke berbagai barang dan jasa lainnya.

Sejumlah ekonom menilai kenaikan harga produk energi belum sepenuhnya tercermin dalam inflasi secara luas. Pandangan ini didasarkan pada kenaikan inflasi inti yang masih relatif moderat.

Namun, ekonom lainnya memperingatkan bahwa harga solar yang mencapai rekor tertinggi, ditambah belum meredanya konflik di Timur Tengah, dapat segera mendorong kenaikan harga di supermarket. Mereka juga menyoroti indikator harga yang meningkat dalam survei bisnis.

Tidak termasuk komponen pangan dan energi yang bergejolak, CPI inti (core CPI) diperkirakan naik 0,2% pada September, melambat dari kenaikan 0,3% pada Agustus.

Perlambatan tersebut diperkirakan mencerminkan berakhirnya dampak kenaikan harga telepon seluler terkait perubahan layanan AT&T. Meski begitu, kenaikan inflasi inti yang melampaui perkiraan tetap mungkin terjadi karena sejumlah penyedia layanan lainnya juga menaikkan tarif pada September.

Tarif penerbangan diperkirakan kembali meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar pesawat. Sementara itu, harga sewa rumah diproyeksikan naik secara moderat.

Harga barang diperkirakan hanya meningkat tipis seiring meredanya dampak tarif impor terhadap harga.

Secara tahunan, inflasi CPI inti diperkirakan mencapai 2,5% pada September, naik dari 2,4% pada Agustus.

Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi PCE inti yang mencapai 3,0% pada Agustus. Perbedaan ini antara lain dipengaruhi oleh pembobotan komponen yang berbeda dalam masing-masing indeks.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed pada Oktober Menyusut

Tekanan inflasi yang kembali meningkat menjadi tantangan bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter. Namun, perkembangan pasar tenaga kerja dan inflasi PCE yang lebih rendah dari perkiraan turut mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Baca Juga: Daftar 5 Miliarder Paling Merugi pada Selasa (13/10), Bos SoftBank Terbanyak 

Pada September, The Fed menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%–4,00%. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama dalam tiga tahun terakhir, sekaligus disertai sinyal bahwa biaya pinjaman berpotensi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar keuangan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan 27–28 Oktober hanya sekitar 22%.

Ekspektasi tersebut melemah setelah pertumbuhan lapangan kerja AS pada September tercatat di bawah harapan. Selain itu, data inflasi PCE untuk Juli dan Agustus juga menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan.

Para ekonom memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada Desember 2026.

Kepala Ekonom AS BMO Capital Markets, Scott Anderson, menilai perkembangan inflasi inti pada September akan menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan bank sentral.

"Jika kenaikan bulanan CPI inti mampu bertahan di kisaran 0,2% pada September, hal itu seharusnya cukup bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada Oktober," kata Anderson.

"Namun, kondisi tersebut tidak akan mengakhiri perdebatan mengenai apakah kenaikan suku bunga lebih lanjut masih diperlukan pada masa mendatang," ujarnya.