KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menegaskan inflasi Amerika Serikat (AS) masih terlalu tinggi dan perlu dikembalikan ke target 2%. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketahanan ekonomi AS dan stabilitas pasar tenaga kerja, meski perekonomian menghadapi sejumlah tekanan. Berbicara dalam konferensi Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jumat (6/11/2026), Williams mengatakan pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh meskipun menghadapi berbagai guncangan secara beruntun. Kondisi pasar tenaga kerja juga dinilainya masih relatif stabil.
Baca Juga: Korban Serangan Rusia di Ukraina Bertambah Jadi 53 Orang Namun, ia mengingatkan bahwa inflasi telah bertahan di level tinggi dalam waktu terlalu lama. “Inflasi benar-benar terlalu tinggi. Kondisi ini sudah berlangsung terlalu lama. Sangat penting bagi kami untuk mengembalikan inflasi ke target 2% secara tepat waktu dan berkelanjutan,” ujar Williams dilansir
Reuters. Tekanan inflasi global antara lain dipengaruhi kenaikan harga energi akibat perang AS dengan Iran. Selain itu, lonjakan investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI) turut meningkatkan biaya sejumlah produk dan jasa terkait teknologi informasi. Williams mengatakan, fokus The Fed bukan semata-mata pada dampak kenaikan harga saat ini, melainkan juga arah inflasi ke depan. Bank sentral AS perlu memastikan guncangan harga yang terjadi tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan bertahan lama.
Baca Juga: Laba Piaggio, Produsen Vespa Melonjak 18% Ditopang Ekspansi Pasar Global Sejauh ini, Williams menilai ekspektasi inflasi masih terkendali. Pertumbuhan upah juga dinilainya masih sejalan dengan target inflasi The Fed sebesar 2%. “Untungnya, sejauh ini kami belum melihat hal tersebut terjadi pada ekspektasi inflasi, yang masih tertambat dengan baik. Kami juga melihat pertumbuhan upah yang menurut saya konsisten dengan target 2% kami,” katanya. Meski menegaskan pentingnya mengendalikan inflasi, Williams tidak memberikan sinyal mengenai langkah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya.
Ia justru menilai pernyataan kebijakan terakhir The Fed sudah tepat, yakni bank sentral perlu mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum menentukan arah kebijakan moneter yang sesuai.
Baca Juga: China Sahkan UU Riset Antartika, Perketat Pengawasan Aktivitas Eksplorasi Sikap tersebut muncul ketika pelaku pasar keuangan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Pasar melihat probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember telah melampaui 50%. Sementara itu, kenaikan suku bunga paling lambat Maret 2027 telah sepenuhnya diperhitungkan dalam ekspektasi pasar.