Inflasi AS Melambat Juni, Tapi Risiko Kenaikan Suku Bunga The Fed Membayangi



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) diperkirakan melambat pada Juni, namun penurunan tersebut kemungkinan belum cukup untuk memberikan banyak kelegaan bagi rumah tangga maupun menghapus peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini, di tengah konflik di Timur Tengah yang masih belum terselesaikan.

Perlambatan yang diperkirakan terjadi pada Indeks Harga Konsumen alias Consumer Price Index (CPI) terutama disebabkan oleh penurunan harga bensin setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun. Penurunan tersebut terjadi setelah gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran sempat berlaku pada bulan lalu.

Namun, kesepakatan tersebut runtuh pekan lalu setelah kapal tanker komersial mendapat serangan di Selat Hormuz, yang kemudian memicu aksi militer antara Amerika Serikat dan Iran. Akibatnya, harga bensin kembali meningkat. Data kelompok advokasi pengendara AAA menunjukkan harga bensin rata-rata nasional naik menjadi US$ 3,87 per galon pada Senin, dari US$ 3,80 per galon sepekan sebelumnya.


Baca Juga: Jelang Semifinal Piala Dunia, Prancis Siap Rebut Kendali dari Spanyol

Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan kembali blokade terhadap aktivitas pelayaran Iran di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak global yang kini menjadi salah satu pusat konflik.

"Tingkat tekanan hanya turun dari 10 menjadi 9. Konsumen masih menghadapi banyak tekanan," ujar Brian Bethune, profesor ekonomi di Boston College. "Kita belum sepenuhnya keluar dari masalah."

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) diperkirakan melaporkan pada Selasa bahwa CPI meningkat 3,8% secara tahunan pada Juni, berdasarkan survei Reuters terhadap para ekonom.

Perkiraan analis berada dalam rentang 3,6% hingga 4,0%. Sebelumnya, CPI melonjak 4,2% pada Mei, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak April 2023, yang dinilai sejumlah ekonom kemungkinan merupakan puncak inflasi.

The Fed menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) sebagai acuan target inflasi sebesar 2%. Inflasi AS terakhir berada di bawah level tersebut pada awal 2021.

Risalah rapat The Fed pada 16–17 Juni yang dirilis pekan lalu menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pejabat bank sentral terhadap inflasi. Dalam pertemuan tersebut, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%–3,75%, meskipun proyeksi terbaru menunjukkan meningkatnya pandangan bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi pada 2026.

Pasar keuangan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan kebijakan 15–16 September mencapai sekitar 50,8%, berdasarkan alat FedWatch milik CME.

Baca Juga: Korea Selatan Kerek Proyeksi Ekonomi Jadi 3% di 2026, Terkuat Sejak 2021

Harga konsumen secara bulanan diperkirakan turun 0,1% pada Juni, yang akan menjadi penurunan bulanan pertama sejak Mei 2020, setelah sebelumnya naik 0,5% pada Mei.

"Dengan tingkat harga saat ini yang masih terus terakumulasi, meskipun sejumlah toko bahan makanan mulai menawarkan potongan harga untuk menarik konsumen kembali, kemungkinan besar tagihan keseluruhan masyarakat tidak akan turun banyak karena masih ada faktor biaya lainnya," ujar Diane Swonk, kepala ekonom KPMG.

Menurut data Administrasi Informasi Energi AS (EIA), harga bensin rata-rata turun menjadi US$ 4,18 per galon pada Mei dari US$ 4,61 per galon, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2022. Namun, harga tersebut masih jauh di atas level sebelum perang.

Keringanan dari penurunan harga bahan bakar diperkirakan akan tertutupi oleh kenaikan harga makanan yang mulai meningkat setelah hanya naik tipis pada Mei.

Konflik AS-Israel dengan Iran telah mendorong kenaikan harga pupuk dan biaya distribusi. Ditambah dengan kondisi kekeringan di sejumlah wilayah AS, situasi tersebut berpotensi mendorong harga pangan lebih tinggi hingga akhir tahun ini dan memasuki 2027, menurut para ekonom.

Tidak termasuk komponen makanan dan energi yang bergejolak, core CPI diperkirakan meningkat 2,8% secara tahunan pada Juni, setelah naik 2,9% pada Mei.

Secara bulanan, inflasi inti diperkirakan meningkat 0,2%, sama seperti kenaikan pada Mei.

Sebagian ekonom menilai kenaikan moderat inflasi inti sebagai sinyal positif. Meskipun konflik baru antara AS dan Iran kembali mendorong harga minyak, level tersebut masih berada di bawah harga pada akhir April dan awal Mei.

Baca Juga: Emas Bangkit dari Level Terendah Dua Pekan, Investor Tunggu Sinyal The Fed

"Yang paling penting bagi pejabat The Fed adalah inflasi inti karena indikator tersebut tidak secara langsung dipengaruhi harga minyak," kata Andrew Hollenhorst, kepala ekonom AS di Citigroup.

Menurutnya, salah satu kekhawatiran sebelumnya adalah kenaikan biaya energi akan merambat ke inflasi inti. Namun, selain kenaikan harga tiket pesawat yang kemungkinan bersifat sementara, kenaikan harga minyak belum memberikan dampak signifikan terhadap inflasi inti.

Namun, sejumlah ekonom lain tetap berhati-hati. Mereka menilai kenaikan inflasi inti yang masih moderat menunjukkan adanya tekanan harga mendasar yang sulit turun, sehingga peluang kenaikan suku bunga tahun ini tetap terbuka. Mereka menyoroti harga input yang masih tinggi serta waktu pengiriman pemasok yang lebih panjang dalam survei bisnis.

Data harga produsen juga menunjukkan potensi kenaikan harga masih berlanjut.

Pada Juni, inflasi inti bulanan diperkirakan terdorong oleh kenaikan harga jasa, kamar hotel dan motel yang berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA, serta pemulihan harga asuransi kendaraan setelah turun tajam pada Mei.

Kenaikan moderat juga diperkirakan terjadi pada harga tiket pesawat dan sewa rumah. Sementara itu, inflasi barang inti kemungkinan tidak berubah secara bulanan. Para ekonom memperkirakan kenaikan harga produk Apple yang terjadi pada akhir Juni baru akan tercermin dalam data Juli.

Dampak kenaikan tarif impor dinilai mulai berkurang, meskipun harga pakaian kemungkinan meningkat dan harga perabot rumah tangga mulai pulih.

"Laporan CPI Juni kemungkinan tidak akan secara tegas menentukan apakah The Fed akan memperketat kebijakan tahun ini atau tidak," ujar Samuel Tombs, kepala ekonom AS di Pantheon Macroeconomics.