KONTAN.CO.ID - Inflasi Amerika Serikat (AS) melonjak pada Maret 2026, didorong kenaikan harga energi akibat konflik dengan Iran serta dampak lanjutan dari kebijakan tarif. Melansir
Reuters Jumat (10/4/2026), data Bureau of Labor Statistics menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,9% secara bulanan pada Maret, tertinggi sejak Juni 2022. Angka ini meningkat dari kenaikan 0,3% pada Februari.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Tajam Pekan Ini, Namun Tetap Tinggi Dekati US$100 per Barel Secara tahunan, inflasi mencapai 3,3% (
year-on-year/YoY), naik dari 2,4% pada bulan sebelumnya dan sejalan dengan ekspektasi ekonom. Lonjakan inflasi ini terjadi di tengah kenaikan tajam harga minyak global yang dipicu konflik antara AS, Israel, dan Iran. Harga minyak dunia tercatat melonjak lebih dari 30%, sementara harga bensin di AS menembus US$4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Kondisi tersebut semakin memperkecil peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.
Baca Juga: The Fed Waspada! Shock Harga Minyak Bikin Inflasi Susah Turun Tekanan inflasi belum selesai Di luar komponen pangan dan energi, inflasi inti (core CPI) naik 0,2% secara bulanan, sama seperti Februari. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,6%. Meski relatif moderat, para ekonom menilai tekanan inflasi berpotensi meningkat pada bulan-bulan berikutnya, seiring efek lanjutan (
second-round effects) dari kenaikan harga energi. Kenaikan harga avtur diperkirakan akan mendorong tarif tiket pesawat, sementara harga solar akan meningkatkan biaya distribusi barang. Selain itu, harga pupuk dan plastik juga diprediksi ikut naik.
Baca Juga: Gangguan Hormuz Picu Lonjakan Biaya Logistik, Rute Alternatif via AS Mulai Dilirik Dampak tarif dan konsumsi Selain faktor energi, inflasi juga dipicu oleh pelaku usaha yang meneruskan beban tarif kepada konsumen. Hal ini mengimbangi tren penurunan harga sewa yang sebelumnya membantu meredam inflasi. Di sisi lain, lonjakan harga energi mulai menggerus daya beli masyarakat. Jika konsumen mengurangi belanja, hal ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Gencatan Senjata Belum Redakan Konflik, Selat Hormuz Masih Tertutup Prospek suku bunga Saat ini, The Fed masih mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%.
Sejumlah ekonom menilai peluang penurunan suku bunga tahun ini semakin kecil. Bahkan, risalah rapat bank sentral terbaru menunjukkan sebagian pembuat kebijakan mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi terus menguat. Meski demikian, sebagian analis masih melihat peluang pelonggaran jika kondisi pasar tenaga kerja memburuk. Ke depan, arah kebijakan moneter AS akan sangat ditentukan oleh perkembangan harga energi dan dampaknya terhadap inflasi serta konsumsi rumah tangga.