Inflasi AS Mulai Menguat di Tengah Lonjakan Harga Energi Akibat Konflik di Iran



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Inflasi Amerika Serikat mencatat kenaikan tercepat dalam tiga tahun terakhir pada April 2026, dipicu oleh lonjakan harga energi akibat konflik dengan Iran. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan tetap tinggi lebih lama, bahkan hingga tahun depan.

Kenaikan tekanan harga tersebut mulai menggerus pendapatan rumah tangga dan berpotensi menekan konsumsi masyarakat serta pertumbuhan ekonomi pada kuartal berjalan.

Inflasi Tertinggi Sejak 2023, Dipicu Lonjakan Energi

Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) naik 3,8% secara tahunan pada April 2026. Angka ini menjadi kenaikan terbesar sejak Mei 2023, sekaligus lebih tinggi dibandingkan 3,5% pada Maret.


Secara bulanan, PCE naik 0,4% pada April, melambat dari kenaikan 0,7% pada bulan sebelumnya. Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan inflasi akan berada di level yang sama, yakni 3,8%.

Baca Juga: Penjualan Rumah Baru di AS Turun, Tertekan Tingginya Suku Bunga Hipotek

Kenaikan harga terutama berasal dari sektor energi. Konflik di Timur Tengah telah mengganggu jalur pengiriman di Selat Hormuz, mendorong harga minyak dan energi global naik tajam serta memperketat rantai pasok berbagai komoditas, termasuk pupuk, aluminium, dan barang konsumsi.

Harga bensin di AS tercatat melonjak 12,3% pada April, dan secara total telah naik lebih dari 50% sejak konflik dimulai pada akhir Februari.

Dampak ke Konsumen: Daya Beli Tertekan

Tekanan inflasi tidak hanya terlihat pada energi, tetapi juga merata pada berbagai sektor. Harga barang naik 0,7% pada April, sementara energi secara umum meningkat 5,5%. Harga pangan juga kembali naik 0,5%.

Pendapatan yang dapat dibelanjakan rumah tangga setelah disesuaikan inflasi turun selama tiga bulan berturut-turut. Pada April, penurunan tercatat 0,5%, sementara pendapatan nominal tercatat stagnan.

Tingkat tabungan masyarakat juga turun menjadi 2,6%, level terendah sejak Juni 2022, dari sebelumnya 3,2% pada Maret. Kondisi ini menunjukkan rumah tangga mulai mengandalkan tabungan untuk menutupi biaya hidup.

The Fed Dihadapkan pada Dilema Kebijakan

Tekanan inflasi yang masih tinggi membuat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%–3,75% hingga 2027.

Baca Juga: Rusia Mulai Kirim LNG ke Asia Lewat Jalur Laut Utara Lebih Awal

Risalah rapat The Fed pada akhir April menunjukkan semakin banyak pejabat yang membuka kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga tambahan jika tekanan inflasi tidak mereda.

Olu Sonola menilai situasi inflasi saat ini semakin sulit bagi bank sentral AS.

Ia mengatakan: “Gambaran inflasi semakin tidak nyaman bagi The Fed. Tekanan harga kemungkinan akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, dan meskipun The Fed tidak dapat memperbaiki guncangan sisi pasokan, mereka tidak bisa mengabaikannya jika sudah merembet ke inflasi inti.”

Konsumsi Masih Tumbuh, tetapi Mulai Melambat

Belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, masih tumbuh 0,5% pada April setelah lonjakan 1,0% pada Maret.

Namun, setelah disesuaikan inflasi, pertumbuhan belanja hanya naik 0,1%, melambat dari 0,3% pada bulan sebelumnya. Pemerintah juga merevisi turun pertumbuhan konsumsi kuartal pertama menjadi 1,4% dari sebelumnya 1,6%.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi AS (PDB) juga direvisi turun menjadi 1,6% dari sebelumnya 2,0%.