Inflasi AS Naik ke 3,7%, Peluang The Fed Naikkan Bunga Oktober Menguat



KONTAN.CO.ID - Inflasi Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada September 2026, dipicu lonjakan harga bensin dan meluasnya tekanan harga di berbagai sektor.

Kondisi ini membuka kembali peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini, sekaligus menambah tekanan bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026.

Melansir Reuters, laporan indeks harga konsumen (CPI) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu (14/10/2026) menunjukkan, inflasi bulanan mencapai 0,6%, meningkat dari 0,4% pada Agustus. Secara tahunan, CPI naik 3,7%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 3,4% pada bulan sebelumnya.


Baca Juga: Netflix PHK 1.000 Karyawan, Terbesar sejak 2022

Meski kenaikan CPI bulanan sesuai dengan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, tekanan harga yang meluas di luar sektor energi memicu kekhawatiran bahwa inflasi inti akan sulit kembali terkendali.

Jeffrey Roach, kepala ekonom LPL Financial mengatakan, proses penurunan inflasi menuju target bank sentral berpotensi berlangsung lebih sulit dari perkiraan.

"Perjalanan tahap terakhir untuk kembali ke target inflasi bisa tetap bergejolak dan membuat suku bunga bertahan tinggi," ujar Roach.

Menurut dia, data terbaru memperumit keputusan The Fed pada pertemuan kebijakan moneter bulan ini karena upaya mengembalikan stabilitas harga semakin menantang.

Lonjakan harga bensin menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi. Harga bensin melonjak 9,1% pada September dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI bulanan.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran mendorong kenaikan harga energi, sementara harga solar juga melonjak hingga mencapai rekor tertinggi.

Baca Juga: Kelebihan Pasokan Menekan Industri, Raksasa Panel Surya China Pangkas Jumlah Pekerja

Kenaikan biaya energi memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan harga akan merambat ke sektor lain, termasuk bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari.

Meski demikian, harga pangan secara keseluruhan tidak berubah pada September setelah naik masing-masing 0,1% pada Juli dan Agustus.

Harga bahan pangan di toko ritel bahkan turun 0,1% secara bulanan, tetapi masih meningkat 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Harga daging sapi turun 1%, sementara produk susu dan turunannya melemah 0,9%. Sebaliknya, harga minuman nonalkohol naik 0,9%, sedangkan buah dan sayuran meningkat 0,5%.

Tekanan juga terlihat pada inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang cenderung bergejolak. CPI inti naik 0,3% secara bulanan pada September, sama seperti Agustus dan lebih tinggi daripada perkiraan ekonom sebesar 0,2%.

Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 2,6% dari 2,4% pada Agustus. Kenaikan harga tempat tinggal, termasuk tarif hotel dan motel, menjadi salah satu pendorong utama. Komponen tersebut naik 0,4%, sedangkan biaya sewa ekuivalen pemilik rumah meningkat 0,3%.

Baca Juga: Impor Batubara China Turun 6% pada September, Pasokan Indonesia Terkendala

Harga mobil dan truk bekas naik 0,7%, tarif penerbangan meningkat 1,2% seiring mahalnya bahan bakar pesawat, sementara harga pakaian naik 0,3%. Biaya rekreasi dan pendidikan juga mengalami kenaikan.

The Fed menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) sebagai acuan utama target inflasi sebesar 2%.

Inflasi PCE inti tercatat 3% secara tahunan pada Agustus, lebih tinggi daripada inflasi CPI inti, antara lain karena perbedaan bobot komponen dalam kedua indeks.

Data inflasi terbaru mendorong pasar keuangan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed tanggal 27-28 Oktober 2026.

Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga naik menjadi sekitar 52% dari sekitar 22% sebelum laporan CPI dirilis.

Sebelumnya, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober sempat mereda setelah pertumbuhan lapangan kerja AS pada September lebih lemah dari perkiraan dan inflasi PCE pada Juli serta Agustus menunjukkan tekanan yang lebih rendah dari ekspektasi.

Baca Juga: Paus Leo XIV Didiagnosis Kanker Paru-paru, Pemimpin Dunia Sampaikan Doa

Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury sebagian besar bergerak naik setelah data inflasi dirilis. Dolar AS juga menguat terhadap sekeranjang mata uang, sementara bursa saham AS dibuka melemah.

Pada September, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun terakhir.

Bank sentral juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan biaya pinjaman lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang, meski sebelumnya ekonom memperkirakan kenaikan berikutnya baru terjadi pada Desember.

Lonjakan inflasi juga menjadi perhatian masyarakat AS menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November.

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 78% warga AS menyalahkan kebijakan Trump, termasuk tarif impor dan konflik di Timur Tengah, atas kenaikan harga yang melampaui pertumbuhan upah.

Baca Juga: Netflix Kantongi Hak Siar Piala Dunia 2030 di Spanyol dan Andorra

Tekanan biaya hidup turut tercermin dalam survei yang menunjukkan penurunan sentimen konsumen dan merosotnya tingkat persetujuan terhadap Trump.

Sementara itu, laporan CPI September juga menjadi acuan bagi jutaan penerima manfaat jaminan sosial dalam memperkirakan kenaikan tunjangan tahun depan.

Administrasi Jaminan Sosial AS mengumumkan penyesuaian biaya hidup sebesar 3,6% untuk tunjangan Social Security dan Supplemental Security Income pada 2027.