Inflasi AS Naik Moderat pada Juli, Tapi Ekonomi Belum Sepenuhnya Aman dari Risiko



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Inflasi konsumen AS nyaris stagnan pada bulan Juli karena harga bensin turun selama dua bulan berturut-turut, sementara inflasi inti tetap rendah, sehingga semakin memperkecil kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve bulan depan.

Mengutip Reuters, Rabu (12/8/2026), kenaikan tipis pada indeks Harga Konsumen bulanan yang dilaporkan oleh Departemen Tenaga Kerja pada hari Rabu juga mencerminkan kenaikan kecil pada harga pangan dan pakaian, serta penurunan biaya hotel, kamar motel, dan obat resep. 

Laporan ini muncul tak lama setelah berita pekan lalu mengenai hilangnya lapangan kerja secara tak terduga pada bulan Juli. 


Meski demikian, para ekonom menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tahun ini masih mungkin terjadi karena inflasi berada jauh di atas target 2% bank sentral AS.

Baca Juga: Trump Menyatakan Pesawatnya Lebih Berisiko Imbas Perubahan Penerbangan Rahasia

"Angka inflasi yang sesuai perkiraan ini akan mempertahankan narasi 'tidak perlu menaikkan suku bunga' yang menguat setelah laporan ketenagakerjaan pekan lalu," ujar Ellen Zentner, kepala strategi ekonomi di Morgan Stanley Wealth Management. 

"Akan ada satu lagi data inflasi sebelum pertemuan bulan September, jadi situasinya masih bisa berubah."

Indeks Harga Konsumen naik tipis 0,1% bulan lalu setelah turun 0,4% pada bulan Juni—penurunan pertama dalam enam tahun—demikian disampaikan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja di bawah Departemen Tenaga Kerja.

Kenaikan 0,1% pada biaya tempat tinggal (shelter) menyumbang sekitar dua pertiga dari kenaikan IHK tersebut. Biaya tempat tinggal tertahan oleh penurunan tajam sebesar 3,3% pada harga kamar hotel dan motel, yang kemungkinan berkaitan dengan berakhirnya turnamen Piala Dunia FIFA. 

Hal ini mengimbangi kenaikan 0,3% pada biaya sewa setara pemilik rumah (owners' equivalent rent). Harga bensin turun 2,9% setelah sebelumnya turun 9,7% pada bulan Juni.

Secara tahunan hingga Juli, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 3,4%, setelah sebelumnya naik 3,5% pada bulan Juni. 

Angka inflasi bulan Juli yang lebih rendah ini kemungkinan hanya memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen, karena harga-harga masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sementara kenaikan upah tidak mengimbanginya. 

Tingginya biaya hidup telah memperburuk pandangan banyak warga Amerika terhadap Presiden Donald Trump, dan dapat membebani peluang Partai Republik dalam pemilihan umum sela bulan November yang akan menentukan kendali Kongres AS untuk dua tahun ke depan. Trump memenangkan pemilihan presiden 2024 sebagian besar karena janjinya untuk menurunkan inflasi.

Inflasi Inti Bulanan Terjaga

Jika tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi yang fluktuatif, IHK naik 0,2% bulan lalu setelah tidak mengalami perubahan pada bulan Juni. Indeks yang disebut sebagai IHK inti ini naik 2,5% dalam periode 12 bulan hingga Juli, setelah sebelumnya naik 2,6% pada bulan Juni.

The Fed memantau indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures) untuk target inflasi 2%-nya. Pasar keuangan memperkirakan adanya peluang sekitar 40% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed tanggal 15-16 September setelah data IHK dirilis; angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya pada hari yang sama.

Para pembuat kebijakan masih akan menerima laporan IHK dan data ketenagakerjaan bulan Agustus sebelum pertemuan tersebut. Para ekonom memperkirakan laju kenaikan harga konsumen akan meningkat pada bulan Agustus, mencerminkan kenaikan harga minyak baru-baru ini. 

Baca Juga: OPEC Pangkas Lagi Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak Dunia 2026

Pertumbuhan lapangan kerja juga diperkirakan akan kembali meningkat seiring hilangnya faktor distorsi musiman. Bulan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan overnight di kisaran 3,50%-3,75%. 

Posisi Amerika Serikat sebagai eksportir bersih minyak serta pengurangan cadangan minyak bumi telah meredam dampak guncangan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian, namun sejumlah ekonom menyatakan bahwa kondisi ini tidak dapat bertahan selamanya. 

Mereka juga menambahkan bahwa AS dan negara-negara lain pada akhirnya perlu mengisi kembali cadangan minyak bumi, yang akan menjaga harga minyak tetap tinggi. 

Dalam sebuah wawancara yang dirilis pada Senin malam, Trump menuding Iran sebagai "negosiator yang licik" dan memaparkan beberapa opsi yang dimilikinya saat ini terkait konflik tersebut—mulai dari sekadar "menjalani situasi apa adanya" dan membiarkan Teheran gagal secara ekonomi, hingga mengambil tindakan "sangat keras" terhadap mereka.