Inflasi AS Sentuh Level Tertinggi, Pasar Saham dan Kripto Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas memicu kekhawatiran pasar global terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve  (The Fed). Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, mulai dari saham teknologi hingga kripto.

Berdasarkan data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, inflasi AS pada April 2026 tercatat naik 3,8% secara tahunan, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya 3,5%. Sementara itu, core PCE meningkat menjadi 3,3%, salah satu level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.

Analis Reku Fahmi Almuttaqin mengatakan, kenaikan inflasi tersebut memperkecil peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.


“Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kini semakin mundur, sementara yield obligasi pemerintah AS kembali naik,” ujar Fahmi dalam keterangan resmi, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: AALI Respons Rencana Ekspor Satu Pintu SDA, Tegaskan Patuhi Regulasi Pemerintah

Menurutnya, kombinasi inflasi tinggi, tensi geopolitik di Timur Tengah, dan dampak tarif perdagangan baru AS mulai menciptakan tekanan besar terhadap aset berisiko.

Di pasar saham AS, reli sektor teknologi dinilai masih ditopang belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), ekspansi infrastruktur digital, serta investasi korporasi besar. Namun, tingginya biaya modal mulai menekan valuasi saham-saham high growth.

Fahmi menilai saham berbasis AI seperti NVIDIA, Microsoft, dan Palantir masih menjadi perhatian investor global. Meski demikian, kenaikan yield Treasury AS mulai memicu rotasi dana ke sektor yang lebih defensif.

Sementara itu, saham otomotif listrik seperti Tesla menghadapi tantangan akibat perlambatan konsumsi dan tingginya biaya pinjaman.

Di sisi lain, pasar kripto dinilai memiliki karakteristik berbeda dibanding siklus sebelumnya. Fahmi menyebut reli kripto saat ini semakin didorong investor institusional melalui arus dana ETF Bitcoin spot, pertumbuhan stablecoin, dan integrasi aset digital ke sistem keuangan tradisional.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Stabil Usai Rebalancing MSCI, Ini Kata Analis

“Bitcoin kini semakin dipandang sebagai aset makro dibanding sekadar instrumen spekulatif,” kata Fahmi.

Ia menambahkan, inflasi tinggi dan suku bunga ketat memang dapat memicu volatilitas jangka pendek. Namun, kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli dolar AS dan membengkaknya utang pemerintah AS justru memperkuat narasi Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai.

Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga dinilai memiliki katalis positif. Solana mendapat sentimen dari pertumbuhan ekosistem stablecoin dan aktivitas perdagangan on-chain, sedangkan Ethereum tetap menjadi tulang punggung tokenisasi aset dan stablecoin global.

Fahmi memproyeksikan, pasar global masih akan sangat sensitif terhadap data ekonomi AS dalam beberapa bulan mendatang.

Menurutnya, jika inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama, pasar saham dan kripto berpotensi mengalami koreksi lanjutan akibat tekanan likuiditas global.

Sebaliknya, apabila inflasi mulai melandai, pasar berpeluang memasuki fase ekspansi baru yang ditopang AI boom, adopsi kripto institusional, dan ekspektasi pelonggaran moneter.

“Dalam fase seperti ini, disiplin manajemen risiko dan kemampuan membaca perubahan arus likuiditas global menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren pasar jangka pendek,” tutup Fahmi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News