KONTAN.CO.ID - Inflasi konsumen Australia naik lebih tinggi dari perkiraan pada Januari, sementara inflasi inti menyentuh level tertinggi dalam 16 bulan terakhir, meningkatkan risiko kenaikan suku bunga lanjutan oleh Reserve Bank of Australia (RBA). Data yang dirilis Australian Bureau of Statistics pada Rabu (25/2/2026) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) bulanan naik 0,4% pada Januari, melampaui perkiraan median 0,3%.
Baca Juga: Warner Bros Buka Kembali Negosiasi dengan Paramount, Kesepakatan Netflix Terancam Kenaikan didorong oleh biaya perumahan, kesehatan, dan pakaian yang lebih tinggi. Secara tahunan, inflasi bertahan di level tinggi 3,8%. Inflasi Inti Capai Level Tertinggi 16 Bulan Ukuran inflasi inti trimmed mean naik 0,3% dalam sebulan, sehingga laju tahunannya meningkat menjadi 3,4% tertinggi dalam 16 bulan dan naik dari 3,3% pada Desember. Angka ini tetap berada di atas target inflasi RBA di kisaran 2%-3% untuk bulan ketujuh berturut-turut.
Baca Juga: AS: Belum Ada Chip Nvidia H200 yang Dikirim ke China Awal bulan ini, RBA telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,85% setelah tekanan inflasi kembali meningkat menyusul tiga kali pemangkasan suku bunga tahun lalu. Kondisi pasar tenaga kerja yang masih ketat turut menopang tekanan harga. RBA sebelumnya memperkirakan inflasi utama akan mencapai 4,2% pada Juni, dengan inflasi inti naik ke 3,7%. Pasar Tingkatkan Taruhan Kenaikan Suku Bunga Pasar keuangan langsung merespons data tersebut. Dolar Australia menguat 0,2% ke US$0,7073, sementara kontrak berjangka obligasi pemerintah tenor tiga tahun turun. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Mei menjadi 80%, naik dari 76% sebelum rilis data. Instrumen swap mengindikasikan pengetatan total sekitar 40 basis poin sepanjang tahun ini—setara sekitar satu setengah kali kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Sedikitnya 30 Tewas Akibat Hujan Lebat di Brasil Tenggara, 39 Orang Hilang Wee Khoon Chong, ahli strategi makro Asia Pasifik di BNY menilai, ada risiko RBA akan bersikap lebih hawkish dari ekspektasi pasar. “Pasar tenaga kerja yang ketat dan pertumbuhan upah yang tinggi, bersama tekanan inflasi yang masih kuat, kemungkinan akan membuat RBA tetap berada di jalur pengetatan,” ujarnya.
Kepala Analisis Ekonomi RBA Michael Plumb sebelumnya juga menyoroti adanya kantong inflasi yang masih “lengket” dan membuka kemungkinan penggunaan ukuran inflasi inti bulanan sebagai acuan kebijakan. Gubernur RBA Michele Bullock dijadwalkan memberikan tanggapan atas data CPI Januari dalam acara di Universitas Melbourne pada Rabu malam, yang dapat memberi petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.