KONTAN.CO.ID - Inflasi konsumen Australia tercatat menurun pada Mei 2026 seiring turunnya harga bahan bakar dan biaya perjalanan liburan. Namun, inflasi inti justru lebih tinggi dari perkiraan, sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral tidak sepenuhnya tertutup.
Baca Juga: Malaysia Siapkan Layanan Drone Komersial Kargo dan Penumpang pada 2030 Data yang dirilis pada Rabu (24/6/202) menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan turun 0,7% pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya, dipicu penurunan harga bensin, pakaian, serta biaya perjalanan liburan. Secara tahunan, inflasi melambat menjadi 4,0% dari 4,2%, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 4,3%. Meski demikian, ukuran inflasi inti yang dipangkas (
trimmed mean) naik 0,4% secara bulanan, lebih tinggi dari ekspektasi 0,3%. Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 3,6%. Rilis data yang beragam ini tidak banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter. Dolar Australia bergerak stabil di level US$0,6917, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 3 tahun turun 2 basis poin menjadi 4,399%.
Baca Juga: Peluang Inggris Lolos dari Grup L Piala Dunia 2026, Ini Hitungannya Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 22% bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan kembali menaikkan suku bunga pada Agustus, yang akan menjadi kenaikan keempat tahun ini. Secara keseluruhan, pasar memperkirakan potensi pengetatan tambahan sekitar 15 basis poin hingga akhir tahun, atau kurang dari satu kali kenaikan 25 basis poin penuh.
Data Biro Statistik Australia menunjukkan, penurunan inflasi dipengaruhi oleh turunnya harga bahan bakar, pakaian, serta biaya perjalanan. Namun, tekanan harga inti yang masih tinggi menunjukkan inflasi belum sepenuhnya terkendali. RBA sendiri telah menaikkan suku bunga tiga kali tahun ini menjadi 4,35% untuk meredam tekanan inflasi yang sempat dipicu lonjakan harga energi. Bank sentral juga memperkirakan inflasi utama akan mencapai puncak 4,8% pada kuartal II, sementara inflasi inti diproyeksikan naik hingga 3,8%.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Fluktuatif Rabu (24/6), Setelah Aksi Jual Saham Teknologi Global Meski harga minyak global turun seiring meredanya ketegangan geopolitik, RBA tetap mewaspadai potensi dampak lanjutan dari biaya energi terhadap harga-harga lainnya di perekonomian.