Inflasi Belum Aman! ECB Siap Tahan Suku Bunga Tinggi Lebih Lama



KONTAN.CO.ID - LONDON. Bank Sentral Eropa alias European Central Bank (ECB) menegaskan akan tetap bersikap proaktif dalam memerangi inflasi, meskipun harga energi global mulai turun setelah kesepakatan Amerika Serikat–Iran menekan ketegangan di Timur Tengah.

Kepala Ekonom ECB Philip Lane dalam sebuah wawancara di konferensi Reuters NEXT Europe di London, Selasa (16/6/2026) menegaskan kebijakan moneter ketat masih diperlukan untuk memastikan inflasi kembali stabil ke target bank sentral.

“Kami akan terus bersikap proaktif dalam kebijakan moneter sesuai perkembangan risiko,” ujar Lane.


Baca Juga: Saham Melonjak 14%, SpaceX Jadi Lima Perusahaan Paling Bernilai Dunia

Sebelumnya, ECB baru saja menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun, dan masih membuka peluang untuk pengetatan lanjutan. Langkah ini diambil untuk mencegah lonjakan harga energi akibat konflik Iran yang berpotensi merembet ke harga barang dan jasa lain di kawasan euro.

Meski harga minyak sempat turun setelah kabar kesepakatan sementara AS–Iran yang juga membuka kembali Selat Hormuz, Lane menilai harga energi masih berada di atas level sebelum perang. Ia menekankan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

Menurut ECB, inflasi zona euro diproyeksikan berada di level 3,0% tahun ini, kemudian turun menjadi 2,3% pada 2027, dan mendekati target 2% pada 2028 dalam skenario dasar. Namun, skenario yang lebih ringan menunjukkan inflasi bisa turun lebih cepat jika harga energi terus stabil.

Lane juga mencatat pasar keuangan masih memperkirakan harga minyak Brent akan bertahan di atas US$ 70 per barel dalam jangka panjang. Posisi ini dianggap berada di antara skenario dasar ECB dan skenario yang lebih optimistis, namun cenderung mendekati proyeksi utama bank sentral.

Di sisi lain, Lane menilai ekonomi zona euro masih cukup tangguh menghadapi guncangan energi. Ia menyebut beberapa faktor penopang seperti pemulihan sektor konstruksi, meningkatnya pendapatan riil masyarakat, serta tambahan belanja fiskal di Jerman. “Banyak faktor yang justru positif. Sehingga guncangan energi yang negatif ini berada dalam konteks ketahanan ekonomi yang lebih luas,” ujarnya. 

Baca Juga: Damai AS–Iran Masih Ragu, Tapi Harga Minyak Sudah Langsung Jatuh

Pernyataan ECB ini mengindikasikan meski tekanan inflasi mulai mereda seiring turunnya harga energi global, bank sentral Eropa belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat, selama ketidakpastian geopolitik dan risiko harga masih ada.