Inflasi China Naik Setelah Lonjakan Minyak



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Lonjakan harga energi mulai terasa dalam perekonomian China. Setelah lama berkutat dengan tekanan deflasi, inflasi konsumen negeri itu justru melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Februari 2026.

Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 1,3% secara tahunan pada Februari. Angka ini jauh melampaui kenaikan Januari yang hanya 0,2% serta di atas proyeksi ekonom yang memperkirakan inflasi sekitar 0,9%.

Reuters (9/3) melaporkan, kenaikan ini terjadi di tengah reli harga energi global dan lonjakan belanja rumah tangga selama libur Tahun Baru Imlek yang jatuh lebih lambat dari biasanya.


Di sisi lain, tekanan deflasi di sektor industri mulai mereda. Indeks harga produsen (PPI) masih turun 0,9% secara tahunan, tetapi penurunan ini menjadi yang paling kecil sejak Juli 2024. Meski begitu, harga produsen masih mencatat kontraksi selama 41 bulan berturut-turut.

Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik menjadi 1,8%, tertinggi sejak 2019. Kenaikan ini memberi sinyal bahwa tekanan harga di sektor domestik mulai meningkat setelah periode panjang permintaan yang lemah.

Namun dinamika harga global kembali menjadi faktor utama yang membayangi inflasi China. Lonjakan harga minyak dunia dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketegangan di Timur Tengah. Sejumlah produsen minyak memangkas produksi, sementara Selat Hormuz jalur strategis bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, hampir tertutup.

Baca Juga: Peta Persaingan Berubah, Konsolidasi Warner Bros & Paramount, Tencent Siaga

Akibatnya, harga minyak Brent sempat melonjak hingga mendekati US$120 per barel, kenaikan intraday terbesar sejak 2020.

Sebagai importir minyak terbesar di dunia, China tidak kebal terhadap dampak tersebut. Meski demikian, negara ini memiliki bantalan karena dalam setahun terakhir secara agresif menimbun cadangan minyak mentah, termasuk untuk kebutuhan strategis.

Ekonom Barclays memperkirakan jika harga minyak bertahan di sekitar US$ 100 per barel sepanjang tahun ini, inflasi China bisa naik sekitar 0,3 poin persentase dari proyeksi saat ini.

Statistikus Biro Statistik Nasional China, Dong Lijuan, mengatakan dampak konflik geopolitik global terhadap harga energi mulai terlihat dalam data inflasi terbaru. Harga bahan bakar domestik pada Februari tercatat naik 3,1% dibandingkan bulan sebelumnya, meski masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Gejolak di pasar energi ini juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter China. Selama ini, bank sentral China cenderung berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan, setelah hanya memangkas suku bunga kebijakan sebesar 10 basis poin sepanjang 2025.

Gubernur bank sentral China Pan Gongsheng sebelumnya juga mengingatkan bahwa volatilitas global berpotensi menular ke perekonomian domestik. Karena itu, otoritas moneter berupaya menjaga stabilitas pasar keuangan dari dampak eksternal.

Sejumlah ekonom menilai lonjakan inflasi Februari belum tentu menandai pemulihan konsumsi yang berkelanjutan. Sebagian kenaikan harga dipicu faktor musiman, terutama meningkatnya permintaan selama libur panjang Tahun Baru Imlek.

Sejumlah komponen pengeluaran rumah tangga melonjak tajam. Harga tiket pesawat, biaya agen perjalanan, layanan transportasi sewaan hingga jasa perawatan kendaraan mencatat kenaikan dua digit dibandingkan tahun lalu.

Harga pangan juga kembali naik. Dipicu kenaikan harga sayuran segar, daging sapi, daging kambing, dan buah-buahan, inflasi makanan mencapai 1,7% secara tahunan pada Februari, berbalik dari penurunan 0,7% pada Januari.

Di sisi lain, lonjakan harga emas turut mendorong inflasi. Harga perhiasan emas naik 76,6% dibandingkan tahun lalu.

Meski inflasi mulai bergerak naik, China masih menghadapi warisan tekanan deflasi yang cukup panjang. Dalam tiga tahun terakhir, perekonomian negara itu mengalami periode penurunan harga terpanjang dalam beberapa dekade, dipicu lemahnya konsumsi dan krisis berkepanjangan di sektor properti.

Karena itu, pemerintah China tetap mempertahankan target inflasi tahun ini sebesar 2%. Target tersebut lebih dipandang sebagai batas atas inflasi, bukan sasaran yang harus dicapai.

Tantangan bagi otoritas ekonomi China kini adalah menyeimbangkan kebutuhan mendorong pertumbuhan dengan risiko tekanan harga dari gejolak energi global. Jika lonjakan harga minyak bertahan lebih lama, ruang pelonggaran kebijakan moneter berpotensi semakin terbatas.

Baca Juga: Kunjungan Perdana Menteri Taiwan ke Jepang Picu Kecaman China