Inflasi dan Suku Bunga Bayangi Prospek Pasar Investasi pada 2027



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar investasi global pada 2027 masih dibayangi sejumlah tantangan, mulai dari tekanan inflasi yang persisten, arah kebijakan suku bunga bank sentral, hingga ketidakpastian geopolitik.

Di sisi lain, investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI), belanja pemerintah, serta penyeimbangan ulang ekonomi global berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang investasi di berbagai kelas aset.

Chief Economist Allianz Global Investors, Christian Schulz mengatakan, perekonomian global akan memasuki 2027 dengan pertumbuhan yang relatif resilien.


Baca Juga: IHSG Ambruk 2,62% ke 4.963 Sesi I, Top Losers LQ45: DEWA, BRPT, WIFI, Selasa (3/11)

Namun, ketahanan ekonomi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan.

"Menjelang 2027, investor menghadapi lingkungan investasi yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang tetap resilien, namun diiringi tekanan inflasi yang masih bertahan, perubahan arah kebijakan moneter, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik," ujar Christian dalam media roundtable AllianzGI di Senayan, Senin (2/11/2026).

Menurut Christian, investasi pada teknologi AI masih menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, kebijakan fiskal melalui belanja pemerintah juga diperkirakan menopang aktivitas ekonomi di sejumlah negara utama.

Meski demikian, tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda berpotensi membuat suku bunga bertahan pada level tinggi lebih lama atau higher for longer.

Kondisi tersebut juga membuka kemungkinan perbedaan arah kebijakan moneter antarnegara. Akibatnya, perkembangan makroekonomi diperkirakan semakin berpengaruh terhadap pergerakan pasar keuangan global.

Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,02% ke Rp 18.153 per Dolar AS pada Selasa (3/11) Siang

Christian menambahkan, dinamika geopolitik dan berbagai kerentanan ekonomi global juga masih menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor.

Di tengah kondisi tersebut, pasar negara berkembang atau emerging markets tetap memiliki peran penting dalam portofolio investasi global. Pasalnya, kawasan ini menawarkan alternatif sumber pertumbuhan di luar pasar negara maju.

Sementara itu, President Director at Allianz Global Investors Indonesia Aliyahdin (Adi) Saugi menilai prospek pasar modal Indonesia masih ditopang oleh fundamental ekonomi, besarnya pasar domestik, serta potensi pertumbuhan jangka panjang.

Meski demikian, pasar modal domestik dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan dari faktor global maupun domestik yang turut memengaruhi sentimen dan perilaku investor.

Menurut Adi, upaya menjaga stabilitas dan mengembangkan pasar modal menjadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan investor serta mendorong keberlanjutan pasar keuangan domestik.

Baca Juga: INDF, SIMP dan LSIP Buka Suara soal Pemanggilan Otoritas Singapura Terkait Karhutla

Di tengah volatilitas pasar, investor juga perlu mempertimbangkan fundamental aset dan menjaga diversifikasi portofolio dengan tetap berorientasi pada tujuan investasi jangka panjang.

"Nilai investasi yang berkelanjutan dibangun melalui disiplin, konsistensi, dan kesabaran dalam menjalankan strategi investasi, sambil tetap mencermati dinamika pasar," kata Adi.

Sebagai informasi, Allianz Global Investors Indonesia mengelola dana kelolaan investor domestik yang terdiri dari reksadana dan mandat investasi sebesar Rp 35,97 triliun per akhir September 2026.

Hingga saat ini, AllianzGI memiliki tujuh produk reksadana. Mulai dari Allianz Rupiah Liquid Fund, Allianz Fixed Income Fund 2, Allianz USD Fixed Income Fund, Allianz Alpha Sector Rotation, Allianz Indo-Asia Equity Fund, Allianz Sri-Kehati Index Fund, dan Allianz High Dividend Global Sharia Equity Dollar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News