KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi Indonesia diperkirakan masih akan berada dalam level yang terkendali dalam beberapa bulan ke depan. Meski demikian, tekanan dari kelompok pangan serta risiko eksternal tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi pergerakan inflasi ke depan. Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, perkembangan inflasi hingga Agustus 2026 menunjukkan bahwa tekanan harga domestik masih relatif terjaga. Inflasi utama memang meningkat menjadi 3,2% secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026, dari 2,9% yoy pada Juli 2026. Namun, secara bulanan inflasi tercatat hanya sebesar 0,2%, sementara inflasi inti juga masih berada pada level 2,9% yoy. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan inflasi belum mencerminkan tekanan permintaan domestik yang berlebihan.
“Inflasi meningkat pada Agustus 2026, tetapi tekanan yang mendasarinya tetap terkendali,” ujar Faiz dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Neraca Dagang RI Diproyeksi Akan Tertekan Impor yang Tetap Tinggi Menurut Faiz, kenaikan inflasi tahunan pada Agustus sebagian dipengaruhi oleh efek basis. Sementara secara bulanan, kenaikan harga masih tergolong moderat. Tekanan terbesar berasal dari kelompok pangan bergejolak (volatile food) yang mencatat inflasi sebesar 4,1% yoy. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh harga sejumlah komoditas pangan seperti ayam, telur, dan cabai. Faiz menyebut, perkembangan harga pangan akan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat prospek inflasi ke depan. Pasalnya, koreksi harga pangan yang terjadi sebelumnya mulai memudar sehingga memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan. Di sisi lain, tekanan dari kelompok energi relatif terkendali. Harga bahan bakar non-subsidi yang lebih rendah serta penurunan biaya transportasi udara turut menahan kenaikan harga yang diatur pemerintah (administered prices), yang tercatat mengalami inflasi 3,3% yoy pada Agustus. Dengan kondisi tersebut, inflasi domestik masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI). Artinya, tekanan inflasi dari sisi permintaan belum menjadi persoalan utama bagi perekonomian. “Data terbaru memperkuat perbedaan antara inflasi domestik yang terkendali dan latar belakang eksternal yang lebih menantang,” jelasnya. Meski demikian, risiko inflasi ke depan tidak hanya berasal dari faktor domestik. Perkembangan harga komoditas global, khususnya minyak, serta kondisi pasar keuangan global tetap perlu dicermati. Harga minyak yang lebih rendah saat ini memberikan ruang bagi penurunan biaya energi dan membantu menjaga tekanan inflasi. Namun, perubahan harga minyak secara global tetap dapat memengaruhi harga domestik melalui biaya impor dan transportasi. Selain itu, ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat juga berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap inflasi Indonesia melalui nilai tukar rupiah. Faiz melihat, apabila tekanan terhadap rupiah meningkat akibat kondisi eksternal yang lebih ketat, ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan yang akomodatif dapat menjadi lebih terbatas. “Bagi BI, stabilitas eksternal tetap menjadi kendala kebijakan yang lebih mengikat,” ujarnya.
Baca Juga: BBM Non-Subsidi Naik, Kelas Menengah Berpotensi Makin Tertekan Faiz menambahkan, inflasi domestik yang masih terkendali membuat BI tidak harus merespons tekanan harga dengan pengetatan kebijakan hanya berdasarkan perkembangan inflasi. Namun, dinamika rupiah dan kondisi pembiayaan eksternal akan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Dengan demikian, ke depan inflasi Indonesia diperkirakan masih relatif terjaga, meskipun risiko kenaikan tetap ada, terutama apabila harga pangan kembali meningkat atau tekanan eksternal membesar. Faiz bilang, langkah stabilisasi non-suku bunga, termasuk kebijakan lindung nilai valuta asing yang diperluas BI, dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga stabilitas tanpa harus mengandalkan kenaikan suku bunga secara agresif. “Kami terus melihat 6,25% sebagai suku bunga BI akhir yang masuk akal, tetapi waktu dan besarnya kenaikan lebih lanjut akan lebih bergantung pada kondisi Rupiah dan pembiayaan eksternal daripada inflasi domestik,” imbuhnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News