Inflasi Grosir Jepang Melandai, Lonjakan Harga Minyak Picu Risiko Tekanan Baru



KONTAN.CO.ID - Inflasi tingkat grosir di Jepang melambat untuk bulan ketiga berturut-turut pada Februari, terbantu oleh subsidi bahan bakar pemerintah yang menahan kenaikan biaya komoditas.

Namun, para analis memperingatkan tekanan harga bisa kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Data yang dirilis Rabu (11/3/2026) menunjukkan indeks harga barang korporasi atau Corporate Goods Price Index (CGPI) naik 2,0% secara tahunan pada Februari.


Baca Juga: Survei StanChart: Perusahaan Global Lihat Ruang Besar untuk Pembiayaan Yuan

Angka ini melambat dibandingkan kenaikan 2,3% pada Januari dan sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 2,1%.

Indeks tersebut mengukur harga barang dan jasa yang diperdagangkan antarperusahaan, sehingga menjadi indikator awal tekanan inflasi dalam perekonomian.

Data tersebut sebenarnya belum sepenuhnya mencerminkan dampak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.

Namun pejabat dari Bank of Japan (BOJ) mengatakan lonjakan harga logam non-besi sudah mulai terlihat akibat meningkatnya risiko geopolitik.

Di sisi lain, indeks harga impor berbasis yen naik 2,8% pada Februari dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: IEA Usulkan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar untuk Redam Lonjakan Harga

Angka ini melonjak dari kenaikan revisi 0,7% pada Januari dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2024, menandakan pelemahan yen masih akan menjaga biaya impor tetap tinggi.

Harga minyak yang sempat melonjak tajam dalam beberapa sesi terakhir juga mengalami volatilitas besar.

Harga minyak sempat turun lebih dari 11% pada Selasa setelah Presiden AS Donald Trump memprediksi perang dengan Iran dapat segera berakhir.

Meski begitu, analis menilai fluktuasi tajam harga minyak dan komoditas lainnya tetap akan menekan biaya perusahaan dan mendorong inflasi domestik Jepang dalam beberapa waktu ke depan.

Ekonom senior di Sompo Institute Plus Masato Koike mengatakan, inflasi grosir kemungkinan akan kembali meningkat seiring lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

“Inflasi grosir kemungkinan kembali meningkat karena lonjakan harga minyak dari konflik Timur Tengah mendorong biaya bahan bakar,” ujarnya.

Baca Juga: Serangan Terbesar Hantam Iran, Pasar Tetap Bertaruh Perang Segera Berakhir

Namun ia menilai kenaikan inflasi tersebut lebih bersifat cost-push inflation, sehingga dalam jangka pendek justru bisa menjadi hambatan bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh BOJ yang lebih fokus pada tren inflasi yang didukung permintaan dan kenaikan upah.

Tahun lalu, Bank of Japan mengakhiri kebijakan stimulus moneter besar-besaran yang telah berlangsung selama satu dekade.

Bank sentral Jepang juga telah beberapa kali menaikkan suku bunga, termasuk pada Desember ketika biaya pinjaman dinaikkan menjadi 0,75%, level tertinggi dalam sekitar 30 tahun.

BOJ sebelumnya menyatakan siap kembali menaikkan suku bunga jika Jepang menunjukkan kemajuan berkelanjutan dalam mencapai target inflasi 2%, yang didukung oleh permintaan domestik yang kuat dan pertumbuhan upah.