Inflasi India Naik Jadi 4,45% pada Juli, Tembus Target Bank Sentral



KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Inflasi ritel India kembali meningkat pada Juli 2026 seiring kenaikan harga pangan. Kondisi tersebut membuat inflasi tahunan India naik menjadi 4,45%, dari 4,38% pada Juni 2026.

Data inflasi Juli tersebut hampir sesuai dengan hasil jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom yang memperkirakan inflasi berada di level 4,50%. Kenaikan ini juga menandai bulan kedua berturut-turut inflasi India berada di atas target jangka menengah Reserve Bank of India (RBI) sebesar 4%.

Meski inflasi kembali meningkat, laju kenaikan harga tersebut dinilai belum cukup untuk mendorong bank sentral India mengubah arah kebijakan suku bunganya.


RBI pada pekan lalu mempertahankan suku bunga repo acuan di level 5,25%. Para pembuat kebijakan masih menunggu bukti yang lebih jelas mengenai apakah tekanan inflasi telah meluas di negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia tersebut.

Baca Juga: Investor Khawatir Strategi Komunikasi The Fed Berubah pada Era Kevin Warsh

Inflasi Pangan India Meningkat

Salah satu faktor utama yang mendorong inflasi India pada Juli adalah kenaikan harga pangan. Inflasi pangan meningkat menjadi 5,52% pada Juli dari 5,32% pada Juni.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah curah hujan monsun yang relatif lemah. Namun, inflasi pangan diperkirakan dapat mereda apabila curah hujan sedikit membaik pada Agustus.

Perbaikan hujan berpotensi membantu menekan tekanan harga lebih lanjut yang berkaitan dengan dampak El Nino.

Gubernur RBI Sanjay Malhotra mengatakan inflasi utama telah bergerak di atas target terutama akibat kenaikan harga bahan bakar. Sementara itu, tekanan harga yang lebih luas masih berada dalam kendali pada pengumuman kebijakan moneter terakhir bank sentral pada awal Agustus.

Pada pertemuan tersebut, RBI juga memangkas proyeksi inflasi untuk tahun fiskal 2026/2027 sebesar 10 basis poin menjadi 5%.

Baca Juga: Bank of America Siapkan US$250 Miliar untuk Infrastruktur Digital dan Energi AS

Harga BBM Jadi Perhatian

Perkembangan harga bahan bakar juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam prospek inflasi India.

Perusahaan ritel bahan bakar milik negara India menaikkan harga bensin dan diesel sebanyak empat kali pada Mei sebagai respons terhadap kenaikan biaya akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Meskipun jeda singkat dalam konflik tersebut sempat mendorong harga minyak mentah global turun, harga minyak masih berada sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang.

Para ekonom menilai volatilitas harga minyak mentah selama Juli belum secara signifikan diteruskan kepada konsumen India. Hal tersebut karena tidak adanya perubahan berarti pada harga eceran bahan bakar domestik.

Namun, tekanan biaya transportasi mulai meningkat. Inflasi sektor transportasi tercatat naik menjadi 4,43% pada Juli dari 4,31% pada Juni.

Kenaikan inflasi ritel India pada Juli menunjukkan bahwa tekanan harga masih menjadi perhatian bagi RBI. Meski demikian, inflasi yang meningkat secara moderat dan masih didorong terutama oleh pangan serta bahan bakar diperkirakan belum cukup untuk mengubah sikap bank sentral terhadap kebijakan suku bunga.