Inflasi Inti Jepang Tembus 2%, BOJ Proyeksi Segera Naikkan Suku Bunga Acuan



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Inflasi konsumen inti tahunan Jepang melampaui target 2% yang ditetapkan Bank of Japan (BOJ) pada bulan September—untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan. Data yang dirilis pada hari ini menunjukkan adanya tekanan harga yang meluas, yang memperkuat argumen bagi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Indeks Harga Konsumen (IHK) inti—yang tidak mencakup bahan pangan segar yang harganya fluktuatif, namun tetap memasukkan biaya bahan bakar—naik 2,1% pada bulan September 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, sesuai dengan median prakiraan pasar. Angka ini menyusul kenaikan sebesar 1,7% pada bulan Agustus.

Sementara itu, indeks yang tidak mencakup bahan pangan segar maupun bahan bakar—yang dipantau ketat oleh BOJ sebagai indikator yang lebih akurat untuk mengukur tekanan harga yang didorong oleh permintaan—naik 2,4% pada bulan September 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, setelah mencatat kenaikan 1,9% pada bulan Agustus 2026.


Baca Juga: Bohongi Pengguna soal Privasi, Meta Didenda Rp452 Triliun

Angka-angka tersebut menyoroti bagaimana tingginya biaya bahan bakar akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, harga impor yang melonjak karena pelemahan yen, serta tekanan harga dari permintaan kecerdasan buatan (AI) yang kuat, telah meredam dampak subsidi bahan bakar dari pemerintah.

Setelah menaikkan suku bunga bulan lalu, Bank Sentral Jepang (BOJ) diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneternya pada pertemuan minggu depan. Namun, menurut sumber yang berbicara kepada Reuters, BOJ mungkin akan merevisi naik prakiraan inflasinya dan memberi sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman yang saat ini masih tergolong rendah.

Bulan lalu, BOJ menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun, yakni 1,25%. Langkah ini menandakan pergeseran fokus kebijakan untuk mencegah inflasi inti melampaui target, sekaligus membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda telah memperingatkan bahwa inflasi inti—atau tren harga secara luas setelah mengecualikan faktor-faktor yang bersifat sementara dan sekali waktu—dapat melampaui target 2%. Hal ini dipicu oleh tekanan harga yang bersumber dari konflik di Timur Tengah, pelemahan yen, serta tingginya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).