Inflasi Inti Juni Naik Jadi 2,76% YoY dan 0,23% MtM, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi inti atau core inflation pada Juni 2026 meningkat secara tahunan maupun bulanan dibandingkan inflasi inti bulan Mei sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan inflasi komponen inti secara tahunan pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,76% dengan andil inflasi sebesar 1,77% terhadap inflasi tahunan yang sebesar 3,34%. 

Sebagai perbandingan inflasi inti tahunan pada Juni lebih tinggi dibandingkan Mei yang sebesar 2,59% secara year on year (yoy). "Komponen inti mengalami inflasi year on year sebesar 2,76% dan memberikan andil inflasi terbesar sebesar 1,77%," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).


Baca Juga: Catat! Pedagang yang Berjualan di Lebih dari 1 Marketplace Tak Dikenakan Pajak Ganda

Menurut Ateng, sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi komponen inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, serta biaya pendidikan tinggi atau perguruan tinggi.

Selain month to month (mtm), inflasi inti pada Juni tercatat sebesar 0,23% dengan andil 0,15% terhadap inflasi bulanan 0,44% pada Juni 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi inti Mei yang sebesar 0,22%.

Ateng menjelaskan, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi inti bulanan terutama pelumas atau oli mesin, telepon seluler, dan minyak goreng.

"Pada komponen inti secara bulanan, inflasi sebesar 0,23% dengan andil 0,15%, terutama didorong oleh pelumas atau oli mesin, telepon seluler, dan minyak goreng," jelasnya.

BPS mencatat, pergerakan komponen inti tersebut mencerminkan tekanan harga yang masih cukup kuat dari sisi nonvolatile food dan harga yang diatur pasar, terutama pada kelompok jasa pendidikan, energi, serta kebutuhan rumah tangga.

Sebagai informasi, inflasi inti adalah komponen inflasi ini pergerakannya cenderung stabil atau persisten dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental seperti interaksi permintaan-penawaran, ekspektasi inflasi, nilai tukar, serta biaya produksi.

Baca Juga: Tokopedia Hingga Shopee Jalani Uji Coba Sebelum Pungut Pajak Pedagang Online

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News