KONTAN.CO.ID - Inflasi inti di Tokyo Jepang melambat ke level terendah dalam hampir dua tahun pada Maret 2026. Namun, tekanan harga diperkirakan akan kembali meningkat seiring lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Melansir
Reuters mengutip data yang dirilis pada Selasa (31/3/2026) menunjukkan, indeks harga konsumen (CPI) inti Tokyo yang tidak memasukkan harga pangan segar naik 1,7% secara tahunan.
Baca Juga: Donald Trump Disebut Siap Akhiri Perang Iran Meski Selat Hormuz Masih Tertutup Angka ini lebih rendah dibandingkan kenaikan 1,8% pada Februari dan menjadi yang terendah sejak April 2024. Capaian tersebut juga berada di bawah target inflasi 2% yang ditetapkan oleh Bank of Japan selama dua bulan berturut-turut. Penurunan inflasi ini sebagian besar dipengaruhi oleh subsidi energi dari pemerintah yang berhasil menekan biaya listrik dan bahan bakar, meskipun yen yang melemah mendorong kenaikan harga bahan baku impor. Gubernur Kazuo Ueda menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar yen menjadi faktor penting yang memengaruhi inflasi dan kondisi ekonomi Jepang. Ia memberi sinyal bahwa tekanan harga akibat pelemahan yen dapat menjadi alasan untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Hari Keempat Selasa (31/3) Pagi, Brent ke US$115,04 per Barel Sementara itu, harga energi tercatat turun 7,5% secara tahunan pada Maret, meskipun penurunannya lebih kecil dibandingkan Februari yang mencapai 9,2%. Harga bensin hanya turun 1%, jauh lebih landai dibanding penurunan 14,7% pada bulan sebelumnya, karena efek pemotongan pajak mulai tergerus oleh lonjakan harga minyak global. Indikator inflasi yang lebih mencerminkan tren, yakni CPI yang tidak memasukkan harga pangan segar dan energi, justru meningkat 2,3% pada Maret, meskipun sedikit melambat dari 2,5% di Februari. Ekonom Sompo Institute Plus Masato Koike menilai, tekanan inflasi akan kembali meningkat ke depan. “Kenaikan biaya akibat konflik di Timur Tengah tidak hanya akan berdampak pada energi, tetapi juga berbagai barang lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Kapal Tanker Minyak Kuwait Terbakar di Dubai Usai Serangan Iran, Tidak Ada Korban Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya yang dijadwalkan akhir April. Di sisi lain, tekanan biaya hidup masih akan dirasakan masyarakat. Survei Teikoku Databank menunjukkan produsen makanan besar di Jepang berencana menaikkan harga 2.798 produk pada April, angka tertinggi sejak Oktober tahun lalu. Konflik di Timur Tengah turut memperumit langkah kebijakan moneter Bank of Japan. Lonjakan harga minyak berpotensi membebani ekonomi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi, sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi.
Data terpisah juga menunjukkan kondisi ekonomi Jepang masih rapuh. Output industri turun 2,1% pada Februari dibanding bulan sebelumnya, sementara penjualan ritel melemah 0,2% secara tahunan.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Tajam di Maret, Yen Pulih Tipis di Tengah Ancaman Intervensi Sebelumnya, Bank of Japan telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 30 tahun sebesar 0,75% pada Desember lalu. Meski suku bunga ditahan pada bulan ini, pembuat kebijakan terus membuka ruang untuk pengetatan lebih lanjut di tengah meningkatnya tekanan harga akibat konflik global.