KONTAN.CO.ID - Inflasi inti di Tokyo kembali menguat pada Juni, menunjukkan tekanan harga di Jepang mulai meluas dari sektor energi ke berbagai barang konsumsi lainnya. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) masih membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Mingguan Keempat Jumat (26/6), Dolar AS Perkasa Mengutip
Reuters, inflasi inti Tokyo yang tidak memasukkan harga pangan segar naik 1,6% secara tahunan (
year on year/YoY) pada Juni. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar dan meningkat dari 1,3% pada Mei. Meski meningkat, laju inflasi tersebut masih berada di bawah target 2% BOJ untuk bulan kelima berturut-turut. Ekonom Daiwa Institute of Research Kanako Nakamura mengatakan, kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah mulai memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian Jepang. "Dampak situasi di Timur Tengah terutama menyebar melalui sektor energi. Kenaikan harga minyak mentah sejak sekitar Februari kini secara bertahap tercermin pada tarif listrik dan gas," ujarnya.
Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan 7%, Pasokan dari Selat Hormuz Mengalir Tekanan inflasi mulai meluas Data juga menunjukkan indeks inflasi yang menghilangkan komponen harga pangan segar dan energi, indikator yang menjadi perhatian utama BOJ untuk mengukur tren inflasi naik menjadi 1,9% pada Juni dari 1,6% pada bulan sebelumnya. Menurut Nakamura, kenaikan tersebut mengindikasikan tekanan inflasi mulai merambah ke sektor non-energi. "Isu utamanya selama ini adalah kapan dan sejauh mana kenaikan biaya akan diteruskan ke inflasi yang lebih mendasar. Data bulan ini menunjukkan tekanan harga mulai meluas dari energi ke barang lain seperti makanan," katanya. Data inflasi Tokyo akan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam rapat kebijakan moneter BOJ bulan depan. Dalam pertemuan tersebut, bank sentral juga akan memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi Jepang.
Baca Juga: Drama Suksesi JPMorgan Berlanjut, Jamie Dimon Bertahan, Kandidat Pewaris Mengerucut BOJ hadapi dilema Meski kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran sempat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, tekanan biaya di Jepang masih cukup tinggi. Inflasi harga produsen Jepang pada Mei melonjak ke 6,3%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir, yang mengindikasikan perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen. Namun, Kepala Ekonom Norinchukin Research Institute Takeshi Minami menilai, tekanan inflasi akibat energi kemungkinan tidak akan mendorong inflasi inti mencapai 3% seperti yang diperkirakan BOJ. Menurutnya, kekhawatiran terhadap inflasi mulai mereda di Amerika Serikat dan Eropa sehingga BOJ berpotensi terlalu berhati-hati dalam menilai risiko inflasi. "BOJ mungkin terlalu berhati-hati terhadap risiko inflasi," ujarnya.
Baca Juga: Skenario 32 Besar Piala Dunia 2026: Jadwal, Format, dan Calon Lawan Konflik Timur Tengah jadi tantangan
Konflik di Timur Tengah membuat BOJ menghadapi dilema dalam menentukan waktu dan besaran kenaikan suku bunga. Di satu sisi, lonjakan harga energi meningkatkan tekanan inflasi. Namun di sisi lain, biaya impor minyak yang lebih mahal membebani perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada impor energi. Awal bulan ini, BOJ telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sebagai bagian dari normalisasi kebijakan moneternya. Bank sentral juga mengisyaratkan masih siap melanjutkan pengetatan kebijakan apabila tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi terus berlanjut.