Inflasi inti turun, daya beli masih belum bangkit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadinya inflasi sebesar 0,17% pada Februari 2018. Inflasi terjadi karena kenaikan harga seluruh kelompok pengeluaran, seperti kelompok bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (lihat tabel).

BPS juga mencatat inflasi inti bulanan (month to month) pada Februari 2018 sebesar 0,26%. Angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi inti bulan Januari 2018 yang sebesar 0,31% (mtm). Secara tahunan inflasi inti Februari tercatat 2,58% (yoy), juga lebih kecil dibandingkan inflasi itu Januari 2018 yang sebesar 2,69% (yoy). Komoditas utama penyumbang inflasi inti Ferbuari 2018 adalah emas perhiasan.

Turunnya tingkat inflasi inti tersebut, sedikit banyak bisa menggambarkan bagaimana daya beli konsumen masih dalam tren pelemahan.


Menurut Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina, penurunan inflasi inti menandakan pemulihan daya beli konsumen belum berjalan. Hal itu bisa terjadi karena pemerintah kurang memberi stimulus ke masyarakat. "Dana bantuan sosial dan dana desa, mungkin belum sampai ke tangan penerima," katanya, Kamis (1/3).

Namun menurutnya, kenaikan daya beli hanya masalah waktu saja. Sebab biasanya daya beli akan meningkat pada kuartal II dan III seiring banyaknya pencairan anggaran pemerintah.

Agar daya beli tidak terganggu, Dian mengingatkan agar pemerintah tak mengambil kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik. "Jika BBM premium naik harga maka daya beli akan terganggu," terang Dian.

Harus diwaspadai

Menurut data BPS, inflasi inti menjadi penyumbang terbesar inflasi Februari 2018. Dengan tingkat inflasi sebesar 0,17%, inflasi inti berkontribusi sebesar 0,15%. Sedangkan inflasi dari harga diatur pemerintah (administered price) dan barang bergejolak (volatile food) hanya berkontribusi masing-masing 0,1%. Sedang kontribusi paling rendah berasal dari inflasi energi 0,03%.

Menurut Bank Indonesia (BI), inflasi inti komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component). Inflasi inti dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti interaksi permintaan-penawaran dan lingkungan eksternal, nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang. Inflasi inti juga dipengaruhi ekspektasi pedagang dan konsumen.

Direktur Departemen Komunikasi BI Arbonas Hutabarat mengatakan, meski inflasi inti menurun, namun masih konsistensi dengan kebijakan BI mengarahkan ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, penyebab utama inflasi inti Februari 2018 adalah kenaikan harga emas perhiasan sebesar 0,02%. "Ini dipengaruhi harga internasional. Emas ke inflasi inti 0,02%, jelas Suhariyanto dalam konferensi pers, Kamis (1/3).

Inflasi inti juga didorong kenaikan upah pembantu rumah tangga (PRT), sewa rumah, tukang bukan mandor, dan beberapa komoditas seperti susu dan ayam goreng. Sedangkan pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah ke inflasi inti belum terlihat.

Pengamat ekonomi Insitute for Development Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan, penurunan inflasi inti harus diwaspadai. "Ini menunjukkan dorongan inflasi dari sisi permintaan masih lemah," jelas Bhima.

Menurutnya dimulainya tahapan Pilkada serentak di 171 daerah bakal mendorong daya beli. Apalagi tahun ini juga dimulai tahapan pemilu legislatif dan pemilu presiden. "Uang beredar akan bertambah sekitar 10%, daya beli bisa naik," jelas Bhima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto