Inflasi Januari 2026 Diproyeksi Melonjak ke 3,59%, Tekanan Berlanjut Selama Kuartal I



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang rilis data inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan Senin (2/1/2026), Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan inflasi Januari 2026 meningkat melampaui target Bank Indonesia (BI) di kisaran 1,5%–3,5%. Hal ini mencerminkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memproyeksikan inflasi Januari 2026 naik menjadi 3,59% year on year (yoy), meningkat dari 2,92% yoy pada Desember 2025. Kenaikan tersebut terutama mencerminkan efek basis rendah akibat adanya diskon tarif listrik sebesar 50% pada periode yang sama tahun lalu.

"Sementara itu, inflasi inti  diperkirakan sedikit melambat menjadi 2,34% yoy dari 2,38% yoy, sejalan dengan pola musiman pasca akhir tahun," ujar Faisal kepada Kontan, Minggu (1/2/2026).


Meski secara tahunan meningkat, secara bulanan IHK justru diperkirakan mencatat deflasi. Faisal memproyeksikan IHK mengalami deflasi sebesar 0,11% month on month (mom), berbalik dari inflasi 0,64% mom pada Desember 2025.

Baca Juga: Inflasi Kuartal I-2026 Diproyeksi Naik Imbas Diskon Listrik dan Lonjakan Harga Emas

Deflasi ini didorong oleh penurunan harga pangan, tarif angkutan udara, serta harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seiring normalisasi permintaan setelah periode libur akhir tahun.

Beberapa komoditas pangan yang diperkirakan memberikan kontribusi deflasi antara lain cabai merah, bawang merah, cabai rawit, daging ayam, dan telur. Dengan kondisi tersebut, komponen harga bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered prices) diperkirakan sama-sama mencatat deflasi bulanan.

Namun demikian, tekanan deflasi diperkirakan akan tertahan oleh inflasi inti yang masih bertahan, didorong oleh inflasi impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga emas, serta peningkatan harga minyak goreng yang terkait dengan gangguan pasokan di wilayah Sumatra.

Faisal menyebut inflasi diperkirakan tetap berada pada level relatif tinggi pada kuartal I-2026 yakni di atas 3% yoy. Kondisi ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang memengaruhi harga pangan, permintaan musiman selama Ramadan dan Idulfitri, kenaikan harga emas di tengah ketidakpastian global, serta efek basis rendah akibat inflasi yang lemah pada kuartal I 2025.

Meski begitu, inflasi diproyeksikan kembali turun ke bawah 3% menjelang akhir 2026 dan berada dalam kisaran target BI.

“Hal ini membuka ruang bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” jelas Faisal.

Tekanan inflasi juga diperkirakan datang dari kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif, termasuk potensi peningkatan likuiditas dan risiko inflasi tarikan permintaan. 

Baca Juga: Jelang Ramadan dan Lebaran, Pemerintah dan BI Jaga Inflasi Di Level 2,5±1% Tahun Ini

Program makan bergizi gratis (MBG) dinilai dapat menjaga permintaan pangan tetap kuat, sehingga berpotensi menekan inflasi pada komponen harga bergejolak. Namun, tekanan tersebut diperkirakan tetap terkendali mengingat kesenjangan output Indonesia yang masih negatif.

Dari sisi eksternal, risiko inflasi impor masih membayangi meski ketegangan geopolitik dan friksi perdagangan global cenderung mereda. Ketidakpastian global diperkirakan tetap menjaga harga emas pada level tinggi. 

Di sisi lain, peluang penurunan suku bunga The Fed pada 2026 dinilai dapat membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Secara keseluruhan, Faisal memproyeksikan inflasi utama berada di kisaran 2,72% pada akhir 2026. Sejalan dengan itu, BI diperkirakan akan melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter, meski ruang penurunan suku bunga dinilai lebih terbatas dibandingkan 2025.

“Saat ini, kami melihat ruang untuk satu kali penurunan BI-rate sebesar 25 basis poin, yang kemungkinan terjadi pada paruh kedua 2026,” tutup Faisal.

Baca Juga: Ekonom Perkirakan Inflasi Bertahan di Sekitar 3% pada Awal 2026

Selanjutnya: BEI Akan Membuka Data Kepemilikan Saham di Bawah 5% Pada Awal Februari 2026

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, Indonesia Borong 4 Gelar Juara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News