Inflasi Jepang Menguat, Peluang Kenaikan Suku Bunga BOJ Terbuka



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Laju inflasi inti Jepang meningkat pada Juni 2026, meski masih berada di bawah target 2% Bank of Japan (BOJ) untuk bulan kelima berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan pelaku usaha belum sepenuhnya membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.

Data pemerintah yang dirilis Jumat (24/7) menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) inti, yang tidak memasukkan komponen pangan segar naik 1,6% secara tahunan (year on year/YoY). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 1,4% pada Mei dan sejalan dengan ekspektasi pasar.

Kenaikan inflasi sebagian dipengaruhi efek basis setelah harga bensin turun tajam pada periode yang sama tahun lalu akibat subsidi pemerintah. Sementara itu, inflasi pangan melambat karena harga beras menurun, sedangkan inflasi jasa turun menjadi 1,2% dari 1,4% pada Mei meskipun pertumbuhan upah tetap stabil.


Meski inflasi masih di bawah target BOJ, para ekonom memperkirakan tekanan harga akan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Lonjakan harga produsen akibat kenaikan harga energi dan biaya impor yang dipicu konflik di Timur Tengah, ditambah pelemahan nilai tukar yen, diperkirakan mulai diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

Baca Juga: Impor Jepang Melonjak ke Rekor Tertinggi pada Juni, Imbas Kenaikan Harga Minyak

"Prospek inflasi akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga komoditas global," ujar ekonom Moody's Analytics Sarah Tan dalam laporan Reuters (24/7).

Ia menilai, risiko terbesar adalah pertumbuhan upah nominal yang tidak mampu mengejar laju inflasi. Kondisi tersebut dapat menekan upah riil dan mengurangi belanja rumah tangga. Pelemahan yen yang berlanjut juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi impor.

Tekanan harga di tingkat produsen juga terus meningkat. Indeks harga produsen Jepang melonjak 7,1% pada Juni, menjadi laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa BOJ masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga.

Meski demikian, Head of Asia-Pacific Capital Economics Marcel Thieliant menilai, data inflasi konsumen belum menunjukkan risiko kenaikan inflasi yang dikhawatirkan BOJ benar-benar terjadi. Namun, dengan harga minyak yang kembali mendekati level tertinggi dan yen yang terus melemah terhadap dolar AS, tekanan inflasi masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Data inflasi ini akan menjadi salah satu pertimbangan utama BOJ dalam rapat kebijakan pekan depan. Bank sentral Jepang secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga, sembari memperbarui proyeksi ekonomi dan inflasinya setelah pada Juni lalu menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sebagai bagian dari normalisasi kebijakan moneter.

Baca Juga: Yen Tembus 163 per Dolar AS, Menteri Keuangan Jepang Tegaskan Siap Bertindak