Inflasi Jepang Tembus 2%, Pemerintah Masih Ragu Sebut Deflasi Telah Berakhir



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Jepang belum memenuhi syarat untuk menyatakan negara tersebut telah berhasil mengakhiri deflasi atau penurunan harga barang dan jasa secara terus-menerus. Hal ini disampaikan Menteri Ekonomi Jepang Minoru Kiuchi pada Jumat, di tengah perbedaan pandangan antara pemerintah dan Bank Sentral Jepang(BOJ).

BOJ menilai Jepang semakin dekat untuk mencapai target inflasi sebesar 2% secara stabil dan berkelanjutan. Namun, pemerintah masih berhati-hati karena khawatir harga-harga kembali turun dalam jangka panjang.

Pernyataan Kiuchi, yang dikenal dekat dengan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang mendukung kebijakan moneter longgar, menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara pemerintah dan bank sentral mengenai kondisi harga di Jepang.


Baca Juga: Tumpahan Minyak Terdeteksi di UEA, Pantai Umm Al Quwain Ditutup Sementara

Perbedaan ini muncul menjelang rapat kebijakan BOJ pekan depan. Bank sentral diperkirakan inflasi yang mendasar telah mencapai target 2%. Kenaikan harga energi akibat perang Iran dan meningkatnya biaya impor karena pelemahan yen turut mendorong harga barang naik.

Meski demikian, pemerintah Jepang belum bersedia menyatakan deflasi telah berakhir. Pemerintah membutuhkan bukti yang lebih kuat bahwa perekonomian tidak akan kembali mengalami penurunan harga secara berkepanjangan.

“Kami perlu berhati-hati sebelum mengambil keputusan dan melihat perkembangan harga konsumen, deflator PDB, serta faktor-faktor yang memengaruhi inflasi secara menyeluruh,” kata Kiuchi ketika ditanya apakah pemerintah akan secara resmi menyatakan berakhirnya deflasi.

Ia menegaskan Jepang harus menghindari terulangnya deflasi dan menilai bahwa saat ini masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa kondisi tersebut telah berakhir.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers ketika Kiuchi ditanya bagaimana pemerintah akan menyelaraskan pandangannya dengan BOJ, yang menilai inflasi mendasar mungkin telah mencapai target.

Subsidi bahan bakar memang membantu menahan kenaikan harga. Namun, inflasi inti konsumen Jepang telah bertahan di sekitar target BOJ sebesar 2% selama empat tahun terakhir. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pandangan pemerintah yang menilai Jepang belum sepenuhnya keluar dari deflasi.

Data yang dirilis pada Jumat menunjukkan bahwa indeks harga konsumen inti (CPI), yang tidak memasukkan harga pangan segar tetapi tetap menghitung biaya bahan bakar, naik 2,1% pada September dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Topan Champi Lumpuhkan Taiwan, 931 Penerbangan Dibatalkan dan Pasar Keuangan Tutup

Sejumlah analis menilai keengganan pemerintah untuk menyatakan deflasi telah berakhir mungkin berkaitan dengan kekhawatiran bahwa keputusan tersebut akan mempersempit ruang pemerintah untuk mempertahankan kebijakan fiskal dan moneter yang longgar.

Pernyataan resmi bahwa deflasi telah berakhir juga dapat memicu tuntutan untuk mengubah kesepakatan bersama antara pemerintah dan BOJ yang ditandatangani pada 2013. Kesepakatan tersebut berisi komitmen kedua pihak untuk bekerjasama mengakhiri deflasi, termasuk melalui pelonggaran kebijakan moneter guna mencapai target inflasi BOJ secepat mungkin. Pemerintah dan BOJ kembali menegaskan kesepakatan tersebut pada 2025.

“Saya berharap BOJ menjalankan kebijakan moneter secara tepat agar target inflasi 2% dapat dicapai secara stabil dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip dalam kesepakatan bersama pemerintah dan BOJ,” kata Kiuchi.

Kiuchi dikenal mendukung kebijakan moneter longgar dan berulang kali menyampaikan keberatannya terhadap rencanakenaikan suku bunga oleh BOJ.

Pada Selasa, Kiuchi mengatakan berharap dapat menghadiri rapat kebijakan bank sentral pekan depan. BOJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, tetapi menaikkan proyeksi inflasinya dan menegaskan komitmen untuk terus menaikkan biaya pinjaman secara bertahap.