Inflasi Juli 2026 Capai 2,88%, Makanan dan Transportasi Jadi Pendorong Utama



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 mengalami inflasi tahunan sebesar 2,88% year on year (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi pada Juni 2026 yang mencapai 3,34% yoy, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 2,37% yoy.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, inflasi tahunan terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang mencatat inflasi sebesar 2,97% yoy dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,87%.

Selain itu, kelompok transportasi juga menjadi penyumbang signifikan dengan inflasi 5,12% yoy dan andil sebesar 0,62%, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 9,04% yoy dengan kontribusi 0,61%.


“Pada kelompok makanan, minuman dan tembakau didorong oleh komponen ikan segar, minyak goreng, beras, sigarek kretek mesin (SKM), daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan sigaret kretek tangan (SKT),” tutur Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: Cuaca Ekstrem hingga Program MBG Diperkirakan Jadi Pemicu Inflasi Hingga Akhir 2026

Untuk kelompok transportasi, inflasi didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas atau oli mesin, serta sepeda motor.

Sementara itu, pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga komoditas emas dan perhiasan.

Inflasi Terjadi di Seluruh Komponen Pengeluaran

BPS juga mencatat seluruh komponen penyusun inflasi mengalami kenaikan harga secara tahunan.

Komponen inti mencatat inflasi sebesar 2,76% yoy dan menjadi penyumbang terbesar. Inflasi pada komponen ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, serta biaya akademi atau perguruan tinggi.

Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 3,58% yoy. Kenaikan pada komponen ini dipengaruhi oleh harga bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.

Baca Juga: Daya Beli Belum Bangkit, Ekonomi Kuartal II-2026 Diprediksi Melambat

Sementara itu, komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi sebesar 2,52% yoy, terutama didorong oleh kenaikan harga beras, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.

Seluruh Provinsi Mengalami Inflasi

Secara wilayah, BPS mencatat seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Juli 2026.

Inflasi tertinggi terjadi di Papua Barat yang mencapai 5,47% yoy, sedangkan inflasi terendah tercatat di Papua Selatan sebesar 1,46% yoy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News