Inflasi Juli 2026 Diperkirakan Masih Tinggi, Meski Tekanan Harga Mulai Mereda



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi pada Juli 2026 diperkirakan masih bertahan di level yang relatif tinggi, meski tekanan kenaikan harga secara bulanan diprediksi mulai mereda dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Ekonom BSI Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan inflasi pada Juli 2026 berada di kisaran 3,20% hingga 3,40% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut masih berada di level yang tinggi, tetapi menunjukkan tekanan inflasi bulanan yang lebih terkendali dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 3,34% yoy.

Banjaran menjelaskan, tekanan inflasi pada Juli diperkirakan bergeser dari dampak langsung penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered prices) menuju kombinasi kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food), inflasi inti, serta efek lanjutan dari kenaikan biaya energi.


Baca Juga: Impor Masih Melaju, Neraca Perdagangan Juni 2026 Diperkirakan Defisit US$ 1 Miliar

Menurutnya, lonjakan administered prices yang mencapai 1,41% MtM pada Juni terutama dipicu oleh kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara setelah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan avtur.

“Dampak langsung dari penyesuaian tersebut diperkirakan mulai mereda pada Juli 2026,” tutur Banjaran kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Meski demikian, menurutnya kenaikan biaya transportasi dan distribusi masih berpotensi diteruskan secara bertahap ke harga berbagai barang dan jasa. Selain itu, tekanan biaya di tingkat produsen juga masih cukup tinggi, tercermin dari kenaikan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) nasional sebesar 6,51% yoy pada Juni 2026.

Dari sisi pangan, Banjaran menilai tekanan inflasi masih perlu diwaspadai. Pasalnya, inflasi kelompok volatile food pada Juni masih tercatat tinggi sebesar 5,58% yoy.

Baca Juga: Apindo Beberkan Data PHK 126.000 Pekerja, Desak Perbaikan Iklim Usaha

Ia menyebut komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan beras masih menjadi penyumbang utama inflasi pangan. Kondisi tersebut dipengaruhi berakhirnya musim panen raya, berkurangnya produksi di sejumlah daerah sentra, serta meningkatnya biaya distribusi.

Meski begitu, sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPIP-TPID) serta penguatan program stabilisasi pangan diperkirakan mampu menahan kenaikan harga agar tidak semakin meningkat.

Sementara itu, dari sisi permintaan, Banjaran melihat konsumsi masyarakat masih akan terdorong oleh libur sekolah yang berlanjut hingga awal Juli serta dimulainya tahun ajaran baru. Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap transportasi, rekreasi, pakaian, perlengkapan sekolah, hingga jasa pendidikan.

Dengan demikian, tekanan inflasi pada Juli diperkirakan berasal dari kombinasi cost-push inflation, yang dipicu kenaikan biaya energi, distribusi, dan imported inflation, serta demand-pull inflation yang didorong konsumsi musiman.

"Inflasi diperkirakan tetap tinggi, tetapi lajunya lebih terkendali dibandingkan Juni dan masih berada di sekitar sasaran Bank Indonesia," ujar Banjaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News