Inflasi Juni 2026 Capai 0,44%, Dipicu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi & Tarif Angkutan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan atau month to month (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28% mtm.

Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 3,34%, meningkat dari 3,08% pada Mei 2026. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) mencapai 1,79%, lebih tinggi dibandingkan posisi Mei yang sebesar 1,35%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kenaikan inflasi Juni terutama didorong oleh kelompok transportasi.


Baca Juga: Prabowo: Polisi Harus Lindungi Rakyat, Jangan Justru Menyusahkan

"Kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 2,29% dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,28%," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Menurut Ateng, inflasi pada kelompok transportasi terutama dipicu oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin.

Ia menjelaskan, komoditas bensin mengalami inflasi seiring adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sebanyak dua kali sepanjang Juni 2026, yakni pada 1 Juni dan 10 Juni.

Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat inflasi sebesar 0,20% dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,06%.

Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi pada kelompok tersebut adalah bawang merah dengan andil 0,04%, bawang putih sebesar 0,03%, serta beras sebesar 0,02%.

Baca Juga: Hari Bhayangkara, Presiden Prabowo Tekankan Peran Polri Jaga Iklim Investasi

Ateng menambahkan, kenaikan harga bawang putih tidak hanya dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi, tetapi juga tekanan dari sisi impor.

"Peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global turut memberikan tekanan terhadap harga bawang putih impor. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menyebabkan imported inflation yang mendorong kenaikan harga komoditas impor," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News