KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Tekanan inflasi berpotensi meningkat signifikan menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95. Tanpa langkah mitigasi yang memadai, lonjakan harga BBM ditambah tekanan dari harga pangan dan pelemahan rupiah dinilai dapat mendorong inflasi hingga mendekati 4%. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 diperkirakan dapat mendorong inflasi sekitar 0,86% hingga 1,25%.
Meski dampak langsungnya terhadap komponen barang dan jasa relatif terbatas, efek tidak langsungnya berpotensi menyebar lebih luas ke berbagai sektor.
Baca Juga: Kemendag: Harga Pangan Masih Stabil, Risiko Kenaikan Tetap Diwaspadai "Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 dapat mendorong inflasi sekitar 0,86%-1,25%. Dampak langsung kenaikan harga BBM non subsidi terhadap komponen barang dan jasa sulit dipetakan, mengingat penggunaan Pertamax yang terbatas di rumah tangga dan sebagian transportasi penumpang," ujar David kepada KONTAN, Rabu (10/6/2026). Menurut David, dampak tidak langsung justru perlu lebih diwaspadai, terutama apabila lonjakan permintaan BBM subsidi memicu kelangkaan pasokan Pertalite sehingga berdampak pada aktivitas ekonomi yang lebih luas. "Dampak tidak langsung kenaikan harga Pertamax akan dirasakan pada hampir seluruh komponen barang dan jasa, terlebih jika lonjakan permintaan BBM subsidi menimbulkan kelangkaan supply Pertalite," katanya. David memperkirakan inflasi pada Juni 2026 berpotensi menembus kisaran 4% yoy. Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari kenaikan harga BBM non subsidi, tetapi juga dari masih tingginya harga pangan dan meningkatnya inflasi inti akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Harga Pangan Masih Tinggi di Ramadan, Kenaikan BBM Non-Subsidi Picu Kekhawatiran "Inflasi Juni 2026 bisa tembus di sekitar 4%. Selain pangan dan BBM, komponen inflasi inti (kecuali emas) diperkirakan meningkat akibat pelemahan rupiah," ujarnya. Di sisi lain, daya beli masyarakat dinilai sudah lebih dulu tertekan oleh kenaikan harga bahan pangan. Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong sebagian konsumen melakukan
downtrading dari Pertamax ke Pertalite untuk menekan pengeluaran. Secara umum, konsumsi masyarakat kelas menengah perkotaan sebagai pengguna utama Pertamax diperkirakan mengalami penurunan nilai belanja (ticket size).
Sementara itu, rencana pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) dinilai dapat membantu menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dan meredam tekanan konsumsi di tengah kenaikan harga BBM non subsidi.
Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Melonjak: Harga Pangan & BBM Non Subsidi Jadi Pemicu Dengan berbagai tekanan tersebut, David menyebut stimulus dari pemerintah akan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mencegah tekanan inflasi semakin meluas ke berbagai komponen pengeluaran rumah tangga. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News