KONTAN.CO.ID - Inflasi Korea Selatan meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun pada Mei 2026, melampaui ekspektasi pasar. Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah menjadi pendorong utama kenaikan inflasi dan memperkuat spekulasi bahwa bank sentral Korea Selatan akan segera menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stagnan Selasa (2/6), Pelaku Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran Melansir
Reuters, data Kementerian Statistik Korea Selatan yang dirilis Selasa (2/6/2026) menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) naik 3,1% secara tahunan (
year on year/YoY) pada Mei. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 2,6% pada April dan menjadi laju inflasi tercepat sejak Maret 2024. Capaian itu juga melampaui perkiraan ekonom dalam survei
Reuters yang memperkirakan inflasi sebesar 3,0%. Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh melonjaknya harga produk minyak bumi yang naik 24,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, tarif penerbangan internasional juga meningkat tajam sebesar 33,5% seiring naiknya biaya energi global. Bank Sentral Korea Selatan atau Bank of Korea (BOK) memperkirakan tekanan inflasi masih akan bertahan dalam beberapa waktu ke depan akibat dampak lanjutan dari lonjakan harga minyak ke berbagai sektor ekonomi. "Inflasi diperkirakan akan tetap berada di kisaran 3% untuk sementara waktu karena efek rambatan dari guncangan harga minyak ke sektor lainnya," ujar BOK dalam pernyataannya setelah data inflasi dirilis.
Baca Juga: Bursa Asia Lesu Selasa (2/6), Ketidakpastian Perundingan AS-Iran Jadi Sorotan Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat Pekan lalu, BOK telah memberikan sinyal akan beralih ke kebijakan moneter yang lebih ketat guna mengendalikan inflasi dan menopang nilai tukar won yang melemah. Bank sentral juga merevisi naik proyeksi inflasi tahun 2026 menjadi 2,7%, dari sebelumnya 2,2%. Adapun target inflasi jangka menengah BOK berada di level 2%. Rapat kebijakan moneter berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 16 Juli mendatang. Ekonom iM Securities Park Sang-hyun menilai, kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli hampir tidak dapat dihindari. "Apakah puncak inflasi terjadi pada kuartal II atau kuartal III akan sangat bergantung pada perkembangan perang Iran," ujar Park. Menurutnya, inflasi bahkan berpotensi naik hingga kisaran pertengahan 3% apabila konflik berlangsung lebih lama. "Akan ada kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli. Adapun berapa kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini akan bergantung pada tren inflasi, sehingga perkembangan konflik Iran perlu terus dipantau," tambahnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tinggi Selasa (2/6) Pagi, Brent ke US$ 95,04 Subsidi BBM Menahan Lonjakan Inflasi Pemerintah Korea Selatan menyebut inflasi sebenarnya bisa lebih tinggi apabila tidak ada kebijakan pembatasan harga bahan bakar yang diberlakukan secara nasional sejak Maret lalu. Kementerian Keuangan Korea Selatan memperkirakan inflasi Mei bisa mencapai sekitar 3,7% tanpa adanya kebijakan tersebut. Sementara itu, inflasi inti (
core inflation), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang bergejolak, meningkat menjadi 2,5% pada Mei dari 2,2% pada April. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 2024.
Secara bulanan, inflasi Korea Selatan naik 0,5% pada Mei, sama seperti bulan sebelumnya. Namun, angka itu masih lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,3%.
Baca Juga: Dampak CEO Greg Abel: Berkshire Kucurkan Investasi US$ 16,8 Miliar dalam 2 Hari Kenaikan inflasi yang terus berlanjut menambah tantangan bagi otoritas moneter Korea Selatan dalam menjaga stabilitas harga sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi yang sangat bergantung pada perdagangan global. Dengan harga energi yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah, pasar kini semakin yakin bahwa BOK akan mengambil langkah pengetatan moneter dalam waktu dekat.