Inflasi Medis dan Pelemahan Rupiah Bayangi Emiten Rumah Sakit, Intip Prospek Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8% pada 2026, jauh di atas rata-rata Asia sebesar 11% hingga 12%. Kenaikan biaya obat-obatan, alat kesehatan, dan tenaga medis berpotensi menekan margin keuntungan emiten rumah sakit, terutama jika tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan dan efisiensi operasional.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan biaya operasional dapat menekan margin EBITDA maupun margin laba bersih perusahaan. Namun, besarnya dampak terhadap masing-masing emiten akan bergantung pada struktur biaya, komposisi pasien, kemampuan bernegosiasi dengan pemasok, serta efektivitas pengelolaan operasional.

“Inflasi medis yang diproyeksikan mencapai 17,8% pada 2026 tentu menjadi tantangan bagi industri rumah sakit karena berpotensi meningkatkan beban operasional, terutama dari sisi pengadaan obat-obatan, alat kesehatan, bahan medis habis pakai, biaya tenaga medis, serta pemeliharaan teknologi kesehatan,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).


Baca Juga: Imbal Hasil SBN 10 Tahun 7,2%, Intip Strategi Investasi Reksadana Obligasi

Menurut dia, pelemahan rupiah juga dapat memperbesar tekanan biaya karena sebagian obat, bahan baku farmasi, dan peralatan medis masih bergantung pada impor. Meski demikian, kenaikan biaya tidak serta-merta membuat laba perusahaan turun apabila emiten mampu meningkatkan volume pasien, memperbaiki bauran layanan, dan menerapkan efisiensi secara konsisten.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY). Keempat emiten perlu menjaga keseimbangan antara kenaikan biaya layanan dan daya beli pasien agar upaya mempertahankan profitabilitas tidak mengorbankan volume kunjungan maupun tingkat okupansi rumah sakit.

Untuk menjaga kinerja keuangan, Nafan menilai emiten perlu mengoptimalkan efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas pelayanan dan keselamatan pasien. Langkah yang dapat dilakukan antara lain memperkuat sentralisasi pengadaan obat dan alat kesehatan, menegosiasikan kontrak jangka panjang dengan pemasok, mengoptimalkan persediaan, serta meningkatkan utilisasi peralatan medis dan kapasitas tempat tidur.

“Di sisi pendapatan, emiten dapat mengembangkan layanan spesialisasi dengan permintaan yang relatif kuat, meningkatkan kontribusi layanan berteknologi tinggi, serta memperluas kerja sama dengan perusahaan asuransi dan penyedia jaminan kesehatan,” katanya.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,59% ke Rp 18.045 per Dolar AS pada Jumat (16/10) Siang

Digitalisasi administrasi, rekam medis, dan penjadwalan layanan juga dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya yang tidak memberikan nilai tambah secara langsung. Sementara itu, penyesuaian tarif layanan perlu dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat, ketentuan yang berlaku, dan sensitivitas pasien terhadap harga.

Selain efisiensi biaya, pengelolaan eksposur valuta asing dan penguatan arus kas juga menjadi perhatian agar kenaikan biaya pengadaan tidak mengganggu likuiditas perusahaan.

Nafan melihat SILO, HEAL, dan MIKA memiliki peluang pertumbuhan yang menarik hingga 2027. PRAY juga berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan domestik. Namun, kemampuan masing-masing emiten mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan laba perlu dinilai berdasarkan valuasi saham, margin operasional, arus kas, tingkat utang, serta realisasi kinerja keuangan terbaru.

MIKA dapat dicermati dari sisi efisiensi operasional dan kemampuannya mempertahankan profitabilitas. Sementara itu, SILO berpotensi memperoleh dukungan dari pengembangan kapasitas dan layanan medis bernilai tambah. HEAL dapat diuntungkan oleh ekspansi jaringan rumah sakit dan peningkatan volume pasien, sedangkan PRAY berpeluang tumbuh melalui optimalisasi kapasitas serta pengembangan layanan kesehatan.

Baca Juga: IHSG Anjlok 10,76% ke 5.233 di Sesi I Jumat (16/10), AKRA, INDY, INCO Top Losers LQ45

Secara sektoral, pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, perluasan kepesertaan asuransi, serta pengembangan layanan spesialisasi menjadi sejumlah katalis yang dapat mendukung kinerja emiten hingga 2027.

Meski demikian, investor perlu mencermati risiko inflasi medis yang berlanjut, pelemahan rupiah, keterbatasan tenaga medis, tekanan tarif, serta potensi keterlambatan pembayaran klaim dari penjamin. Ekspansi kapasitas juga perlu diikuti pertumbuhan volume pasien dan pendapatan agar dapat memberikan kontribusi terhadap laba.

Karena itu, Nafan menyarankan investor memprioritaskan emiten dengan pertumbuhan pendapatan yang sehat, margin relatif stabil, arus kas operasional positif, serta kemampuan menghasilkan imbal hasil yang baik dari ekspansi kapasitas. Valuasi juga perlu menjadi pertimbangan karena prospek pertumbuhan yang baik belum tentu membuat saham menarik apabila harganya telah mencerminkan ekspektasi yang terlalu tinggi.

Terkait rekomendasi saham, Nafan menyarankan investor bersikap wait and see terhadap SILO, HEAL, MIKA, dan PRAY.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News