KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi medis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, turut menekan kinerja asuransi kesehatan di industri asuransi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan fenomena inflasi medis masih menjadi salah satu tantangan utama bagi industri asuransi kesehatan pada tahun ini. Terkait hal itu, PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) juga menilai inflasi medis masih menjadi tantangan utama dan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi lini bisnis asuransi kesehatan. Direktur Ciputra Life Listianawati Sugiyanto mengatakan hal itu tercermin pada peningkatan biaya klaim baik dari sisi tarif layanan kesehatan, harga obat-obatan, maupun tindakan medis lain yang berimplikasi langsung pada kenaikan rasio klaim.
Baca Juga: Bank Mega Akan Tebar Dividen Tunai Rp 2 Triliun dan Saham Bonus Rp 5,87 Triliun Oleh karena itu, Listianawati menyebut pihaknya menerapkan sejumlah upaya untuk mengantisipasi tantangan terkait inflasi medis. Dia bilang Ciputra Life secara aktif mengantisipasi kondisi tersebut melalui beberapa langkah strategis, seperti memperkuat kerja sama dengan jaringan rumah sakit dan provider kesehatan untuk memastikan kualitas layanan tetap optimal dengan biaya yang lebih terkelola, serta melakukan pemantauan klaim secara efektif. "Ditambah, memastikan perawatan yang diberikan sesuai kebutuhan medis," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (1/4/2026). Dari sisi produk, Listianawati menuturkan Ciputra Life akan melakukan evaluasi dan penyesuaian produk secara berkala agar tetap relevan dengan kebutuhan nasabah, sekaligus menjaga keberlangsungan serta keseimbangan antara manfaat dan premi. "Selain itu, Ciputra Life juga melakukan edukasi kepada nasabah mengenai penggunaan asuransi kesehatan yang bijak dan mempromosikan gaya hidup sehat sebagai langkah preventif," katanya. Melalui langkah-langkah itu, Ciputra Life berkomitmen untuk tetap memberikan perlindungan kesehatan yang optimal bagi nasabah, sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis secara sehat di tengah dinamika biaya medis yang terus berkembang.
Baca Juga: Targetkan Kredit Tumbuh 10%-11% di 2026, Ini Jurus Bank Mega Sementara itu, Listianawati menyampaikan klaim asuransi kesehatan kumpulan tercatat memiliki porsi hampir 40% terhadap total keseluruhan klaim asuransi kesehatan perusahaan pada 2025. Dia bilang porsinya meningkat cukup signifikan, dibandingkan 2024. "Hal itu juga mengingat produk asuransi kesehatan kumpulan kami baru mulai diluncurkan pada pertengahan 2024. Selain itu, peningkatan klaim tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan jumlah peserta, serta meningkatnya utilisasi layanan kesehatan," ucapnya.
Selain inflasi medis, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan tingginya utilisasi layanan kesehatan, serta kebutuhan penguatan manajemen risiko dan pengendalian klaim juga menjadi tantangan bagi industri asuransi kesehatan. Imbas dari tingginya inflasi medis dalam beberapa tahun terakhir, Ogi menerangkan terdapat perusahaan asuransi yang pada akhirnya melakukan penyesuaian strategi pemasaran produk kesehatan. Namun, Ogi menilai dengan adanya penguatan tata kelola melalui Peraturan OJK (POJK) 36/2025 tentang Ekosistem Asuransi Kesehatan, sektor asuransi kesehatan diharapkan dapat berkembang lebih sehat dan berkelanjutan. Selain itu, diharapkan juga tetap menjadi salah satu area penting dalam pengembangan produk asuransi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News