Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Melonjak: Harga Pangan & BBM Non Subsidi Jadi Pemicu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah ekonom memproyeksikan inflasi pada Mei 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh kenaikan harga pangan, bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, hingga tekanan imported inflation akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memperkirakan, inflasi Mei 2026 secara bulanan mencapai 0,36%, lebih tinggi dibanding inflasi April 2026 yang sebesar 0,13% mtm. Sementara secara tahunan, inflasi diperkirakan naik menjadi 3,17% dari sebelumnya 2,42% year on year (YoY).

Selain itu, Maybank Indonesia juga memproyeksi, inflasi inti atau core inflation pada Mei meningkat menjadi 2,53% yoy dari bulan sebelumnya 2,44% yoy per April.


“Untuk inflasinya, kita perkirakan akan naik. Normalnya 0,36%, terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan makanan,” ujar Juniman kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Kejar Proyek PLTS 100 GW, Pemerintah Siapkan 24.000 Hektare Lahan di Jawa

Juniman mengatakan, hampir seluruh harga bahan makanan mengalami kenaikan setelah sebelumnya sempat turun pada periode pasca Lebaran. Komoditas seperti bawang merah, beras, hingga minyak goreng tercatat mengalami kenaikan harga.

Menurutnya, tingginya harga BBM non subsidi juga turut mendorong tekanan inflasi pada Mei 2026. Selain itu, imported inflation akibat pelemahan rupiah membuat harga barang-barang kebutuhan turut meningkat.

Core inflasinya juga naik karena ada imported inflation, sehingga ke level 2,53% dari sebelumnya masih berada di sekitar 2,4%,” tambahnya.

Secara rinci, Juniman melihat kenaikan inflasi terutama dipicu oleh naiknya harga bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, gandum, kedelai, cabai, bawang, dan paprika merah.

Sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia, harga BBM non subsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite juga meningkat. Namun demikian, penurunan harga emas dunia membuat harga emas dan perhiasan turun pada bulan Mei.

Senada, Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang memperkirakan, inflasi Mei 2026 meningkat menjadi 0,25% mtm. Sedangkan inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi sekitar 3,05% yoy. Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan relatif stabil di level 2,50% yoy.

“Ini menunjukkan bahwa kenaikan inflasi masih lebih didorong oleh tekanan harga komoditas dan energi global dibandingkan lonjakan permintaan domestik,” ujar Hosianna kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Daya Beli Lesu, Perputaran Ekonomi Kurban Melemah, Korporasi Tetap Gencar Berkurban

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memprediksi, inflasi Mei 2026 meningkat menjadi 2,93% yoy dengan inflasi bulanan stabil di level 0,13% mtm. Sementara inflasi inti juga diperkirakan meningkat masing-masing sebesar 2,52% yoy dan 0,15% mtm.

“Inflasi tahunan tinggi karena ada efek low base di Mei lalu di mana harga bahan pangan turun signifikan,” ujar David kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).

Lebih lanjut David menyebut, secara bulanan inflasi bahan pangan sedikit meningkat terutama pada komoditas cabai. Sementara itu, inflasi inti masih relatif lemah seiring penurunan harga emas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News