Inflasi pada Mei 2026 Diproyeksi Naik, Cermati Pemicu Utamanya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi pada bulan Mei 2026 diperkirakan mengalami kenaikan tipis baik secara bulanan maupun tahunan.

Kenaikan ini terutama dipicu lonjakan harga pangan, kenaikan BBM nonsubsidi, serta tekanan imported inflation akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, memproyeksikan inflasi Mei 2026 berada di level 0,14% secara bulanan (mtm), naik tipis dari April 2026 sebesar 0,13%.


Secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 2,94% (yoy), meningkat dari 2,42% pada bulan sebelumnya.

"Jadi, arah inflasi Mei bukan melemah, tetapi sedikit meningkat karena tekanan biaya mulai lebih terasa ke konsumen," ujar Josua kepada KONTAN, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diprediksi Naik, Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu

Menurut Josua, tekanan inflasi saat ini lebih banyak berasal dari sisi biaya produksi dan pasokan, bukan karena lonjakan permintaan. 

Pelemahan rupiah membuat harga barang impor lebih mahal, sementara tingginya harga energi turut memperbesar biaya produksi.

Dari sisi komponen inflasi, tekanan juga datang dari volatile food seiring meningkatnya permintaan pangan menjelang Iduladha. Komoditas seperti minyak goreng hingga sejumlah bahan pangan lain masih berpotensi naik.

Selain itu, administered prices juga dinilai ikut terdorong, terutama akibat harga BBM nonsubsidi dan tarif transportasi udara yang tertekan mahalnya avtur. 

Meski demikian, penurunan harga emas dinilai dapat menahan laju inflasi inti agar tidak meningkat terlalu tinggi.

Tekanan harga pangan meluas

Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, yang memperkirakan inflasi Mei 2026 mencapai 0,36% mtm dan 3,17% yoy. Inflasi inti diperkirakan naik ke 2,53% yoy dari 2,44% pada periode sebelumnya.

Ia menyebut hampir seluruh komoditas pangan mengalami kenaikan harga setelah sempat terkoreksi pasca-Lebaran. Mulai dari beras, gula, minyak goreng, daging ayam dan sapi, cabai, bawang, hingga kedelai tercatat mengalami tekanan harga.

"Core inflation juga naik karena ada imported inflation," ujar Juniman.

Selain pangan, kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite juga menambah tekanan inflasi. Pelemahan rupiah turut memperburuk kondisi karena meningkatkan biaya barang impor.

Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Melonjak: Harga Pangan & BBM Non Subsidi Jadi Pemicu

Sementara itu, Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, memperkirakan inflasi Mei 2026 berada di 0,25% mtm dengan laju tahunan sekitar 3,05% yoy. Inflasi inti diperkirakan stabil di level 2,50%.

Adapun Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memproyeksikan inflasi Mei 2026 sebesar 2,93% yoy, dengan inflasi bulanan stabil di 0,13% mtm. Inflasi inti diperkirakan naik tipis menjadi 2,52% yoy.

"Inflasi tahunan tinggi karena ada efek low base di Mei lalu di mana harga bahan pangan turun signifikan," kata David.

Ia menambahkan, secara bulanan inflasi terutama dipicu kenaikan harga cabai, sementara inflasi inti masih tertahan oleh penurunan harga emas.

Ke depan, Josua menilai risiko inflasi masih cenderung meningkat. 

Dari sisi domestik, kebijakan fiskal yang ekspansif serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat meningkatkan permintaan pangan jika tidak diimbangi pasokan yang memadai.

Baca Juga: Mengapa Rupiah Terus Tertekan? Defisit NPI Jadi Sorotan Utama

Dari sisi eksternal, risiko cuaca seperti potensi El Nino serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi. 

Kondisi ini juga dapat menekan rupiah dan memperkuat tekanan imported inflation di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News