Inflasi Pangan Tembus 5,03%, Ekspektasi Harga Peritel Naik hingga 2027



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi pangan bergejolak atau volatile food di Indonesia meningkat menjadi 5,03% secara tahunan atau year-on-year (YoY) pada September 2026. Angka tersebut melampaui inflasi umum yang tercatat sebesar 3,28% YoY, di tengah risiko gangguan pasokan akibat cuaca dan fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga April 2027.

EBC Financial Group menilai, kenaikan harga pangan perlu dicermati apabila mulai mendorong ekspektasi kenaikan harga barang dan jasa lainnya. Kondisi tersebut berpotensi membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama, meskipun kenaikan awalnya dipicu gangguan pasokan.

Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman mengatakan, inflasi umum Indonesia masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia (BI), yakni 1,5% hingga 3,5%. Namun, inflasi pangan yang lebih tinggi menunjukkan tekanan harga masih terkonsentrasi pada kelompok kebutuhan pokok.


Baca Juga: Pemerintah Waspadai Ancaman El Niño terhadap Harga dan Inflasi Pangan

“BI sudah menegaskan kebijakannya tidak merespons lonjakan harga yang bersifat sementara. Namun, jika pelaku usaha dan rumah tangga mulai berekspektasi harga akan terus naik, guncangan pangan yang sifatnya sementara bisa berubah menjadi tekanan yang menetap,” ujar Rehman dalam keterangan resmi, Kamis (15/10/2026).

Di tengah kenaikan inflasi pangan, inflasi inti justru melandai menjadi 2,84% pada September 2026, dari 2,92% pada bulan sebelumnya. Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang cenderung lebih persisten dan tidak terlalu dipengaruhi gejolak harga komoditas tertentu.

Menurut EBC, perbedaan antara inflasi pangan dan inflasi inti menunjukkan tekanan harga belum meluas ke seluruh perekonomian. Karena itu, perkembangan ekspektasi harga dan kondisi pasokan pangan menjadi faktor penting untuk dicermati ke depan.

Salah satu indikator yang disoroti EBC adalah Indeks Ekspektasi Harga dalam Survei Penjualan Eceran BI. Pada September 2026, indeks untuk Februari 2027 meningkat menjadi 177,9, dari 166,0 pada periode sebelumnya.

Kenaikan indeks tersebut menunjukkan peritel memperkirakan tekanan harga akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Jika perkiraan tersebut berujung pada penyesuaian harga jual, kenaikan harga pangan berpotensi merembet ke kelompok barang lainnya.

Risiko tersebut juga muncul di tengah prakiraan El Nino yang berkepanjangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena tersebut berada pada level sangat kuat dan memperkirakan 66,09% wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah pada dasarian II Oktober 2026.

Baca Juga: Proyeksi Inflasi Masih di Atas 3%, Harga Pangan dan Energi Jadi Risiko

El Nino diperkirakan berlangsung hingga akhir April 2027. Periode tersebut melampaui horizon Februari 2027 yang tercermin dalam ekspektasi harga peritel. Meski demikian, kesamaan periode tersebut belum membuktikan El Nino sebagai penyebab langsung kenaikan ekspektasi harga. BI sendiri mengaitkan kenaikan harga pangan dengan gangguan cuaca dan peningkatan biaya input.

EBC juga menyoroti hasil kajian Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai krisis biaya hidup. Kajian tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi dapat bertahan di atas tingkat sebelum krisis selama bertahun-tahun setelah kenaikan harga kebutuhan pokok. Rumah tangga berpendapatan rendah juga cenderung menghadapi tekanan lebih besar karena porsi belanja pangan dan energi mereka relatif tinggi.

Namun, EBC menegaskan bahwa kondisi Indonesia saat ini belum menunjukkan krisis biaya hidup serupa. Inflasi umum masih berada dalam rentang sasaran BI, inflasi inti melandai, dan ekspektasi inflasi disebut masih terjangkar.

Baca Juga: Harga Pangan dan Minyak Jadi Ancaman Inflasi, Ini Kata Gubernur BI

Dari sisi kebijakan moneter, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75% pada 23 September 2026. BI juga menegaskan bahwa lonjakan harga yang bersifat sementara tidak serta-merta menjadi alasan untuk mengubah arah kebijakan suku bunga.

Meski begitu, EBC menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter dapat menyempit apabila ekspektasi kenaikan harga semakin meluas dan tekanan inflasi bertahan lebih lama.

Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah. Karena itu, perkembangan inflasi bulanan, Survei Penjualan Eceran BI, serta data curah hujan dari BMKG menjadi sejumlah indikator yang perlu dicermati.

“Untuk saat ini, kenaikan harga masih terpusat di pangan, dan BI mengaitkannya dengan faktor cuaca serta biaya input yang lebih tinggi. Inflasi inti justru melandai,” kata Rehman.

Ia menambahkan, perkembangan ekspektasi harga peritel selama periode El Nino akan menjadi salah satu penentu apakah kenaikan harga pangan hanya berlangsung sementara atau berkembang menjadi tekanan harga yang lebih panjang.

Baca Juga: OECD Ingatkan Risiko El Nino Ekstrem di Akhir Tahun Ancam Produksi Pangan & Inflasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News