Inflasi Produsen Capai 7%, BI: Dampaknya Tak Langsung Bertransmisi ke Konsumen



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, inflasi tingkat produsen tidak akan langsung bertransmisi ke tingkat konsumen. Pasalnya, komoditas yang membentuk inflasi produsen dan konsumen memiliki komposisi serta faktor pendorong yang berbeda.

Destry menjelaskan, perbedaan tersebut tercermin dari inflasi konsumen yang tercatat sebesar 3,23% pada Oktober 2026 atau lebih rendah, meskipun tekanan inflasi di tingkat produsen lebih tinggi menyentuh 7%.

"Kadang-kadang tidak harus yang di level produsen dengan konsumen itu sama. Bisa saja di produsen untuk kumpulan komoditas tertentu naik 7%, tetapi di konsumen karena yang dikonsumsi berbeda, sehingga inflasi hanya naik 3,23%," ujar Destry dalam konferensi pers rapat berkala KSSK, Selasa (3/11/2026).


Baca Juga: Kemenkeu Tegaskan Tak Akan Jadi Pemegang Saham BEI, Ini Alasannya

Meski demikian, Destry menyebut BI tetap mencermati kemungkinan kenaikan harga di tingkat produsen yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen. Terlebih, apabila kenaikan tersebut berlangsung cukup lama dan komoditas yang terdampak memiliki keterkaitan dengan barang yang dikonsumsi masyarakat.

Destry menjelaskan, produsen juga dapat menahan kenaikan harga jual untuk menjaga daya beli dan mempertahankan konsumennya. Namun, kemampuan produsen meredam kenaikan harga tersebut tentu memiliki batas, terutama jika tekanan biaya produksi terus berlangsung.

Karena itu, BI akan melihat sumber tekanan inflasi sebelum menentukan respons kebijakan yang tepat.

"Jadi respons kebijakan akan beda dari posisi sumber inflasinya dari mana," ujar Destry.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, BI Perkuat Intervensi dan Pemerintah Andalkan APBN

Menurutnya, jika kenaikan inflasi bersumber dari sisi penawaran (supply side), misalnya akibat keterbatasan pasokan barang, penanganannya perlu diarahkan pada perbaikan pasokan.

Sementara itu, apabila tekanan berasal dari sisi permintaan (demand side) akibat konsumsi yang terlalu tinggi, kebijakan perlu diarahkan untuk mengendalikan permintaan.

"Jadi respons kebijakan akan berbeda tergantung sumber inflasinya dari mana," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News