KONTAN.CO.ID - Inflasi harga produsen China melonjak pada September 2026, mencapai laju tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir. Kenaikan harga minyak dan komoditas mendorong biaya produksi pabrik, sementara lemahnya permintaan domestik masih menahan laju inflasi konsumen. Melansir
Reuters, berdasarkan data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Rabu (14/10/2026), indeks harga produsen atau producer price index (PPI) naik 5% secara tahunan (
year-on-year/yoy) pada September.
Baca Juga: Saham Chip Asia Bangkit Rabu (14/10), Pasar Menanti Data CPI AS Angka tersebut meningkat dibandingkan kenaikan 3,8% pada Agustus sekaligus melampaui perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 4,5%. Kenaikan ini menjadi yang tercepat sejak Juni 2022, menandakan tekanan biaya di tingkat produsen semakin kuat. Harga minyak dan komoditas yang meningkat akibat gangguan transportasi, cuaca buruk, serta ketegangan geopolitik turut mendorong biaya produksi manufaktur. Namun, lemahnya permintaan membuat kenaikan biaya tersebut belum sepenuhnya diteruskan ke harga barang yang dibayar konsumen. Kondisi ini menunjukkan pemulihan ekonomi China masih belum merata. Aktivitas produsen menghadapi kenaikan biaya, sedangkan konsumsi rumah tangga tetap lemah. Pemulihan ekonomi pun masih lebih banyak ditopang ekspor dibandingkan belanja domestik.
Baca Juga: Trump Klaim Taiwan Setuju Beli 30% Gas dari Proyek Alaska, Detail Belum Jelas Di sisi konsumen, indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) China naik 0,9% secara tahunan pada September. Angka tersebut sedikit meningkat dari 0,8% pada Agustus, tetapi masih di bawah perkiraan ekonom sebesar 1%. Secara bulanan (
month-on-month/mom), CPI hanya meningkat 0,2%. Realisasi ini lebih rendah dibandingkan perkiraan kenaikan 0,3% dan kenaikan 0,4% pada Agustus. Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi yang bergejolak, tercatat sebesar 1% secara tahunan. Angka tersebut tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Data ini mengindikasikan rumah tangga China masih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Meski harga di tingkat produsen meningkat tajam, tekanan harga di tingkat konsumen tetap terbatas karena permintaan domestik belum pulih kuat. Untuk menopang perekonomian, pemerintah China telah meningkatkan dukungan fiskal. Beijing menyetujui tambahan kuota obligasi pemerintah daerah yang belum digunakan sebesar 550 miliar yuan atau sekitar US$ 82,15 miliar untuk membiayai infrastruktur dan belanja lainnya.
Baca Juga: Glencore Debut di Bursa Australia, Bidik Investor di Tengah Tren Tembaga Langkah tersebut melengkapi sejumlah kebijakan stimulus sebelumnya, termasuk subsidi kredit pemilikan rumah atau hipotek. Meski berbagai stimulus telah digulirkan, lemahnya keyakinan sektor swasta dan konsumsi rumah tangga masih menjadi tantangan bagi pemulihan ekonomi China. Kenaikan inflasi produsen yang tidak diikuti penguatan inflasi konsumen juga mencerminkan ketidakseimbangan antara tekanan biaya produksi dan permintaan akhir.