Inflasi Produsen Melebihi Proyeksi, Potensi Bank of Japan Naikkan Suku Bunga Menguat



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Tekanan inflasi di tingkat produsen Jepang masih tinggi pada Agustus 2026. Kondisi ini memperkuat perhatian Bank of Japan (BOJ) terhadap risiko kenaikan harga ke depan.

Berdasarkan data awal yang dirilis BOJ, Jumat (11/9/2026), indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) Jepang naik 7,6% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut sedikit melandai dari kenaikan 7,7% pada Juli.

Akan tetapi, realisasi tersebut lebih tinggi dari konsensus proyeksi ekonom, yang memprediksi inflasi produsen hanya akan naik 7,4% di Agustus. Realisasi tersebut menunjukkan tekanan harga yang kuat di tingkat produsen. Secara bulanan, PPI turun 0,2%.


Tekanan harga terutama terlihat pada sejumlah komoditas. Harga produk logam nonbesi melonjak 43,3% secara tahunan, produk informasi dan komunikasi naik 19,5%, produk minyak bumi dan batubara meningkat 14,7%. Sedangkan produk plastik naik 11,2%.

Harga listrik, gas dan air juga meningkat 8,0% secara tahunan. Namun, sejumlah komponen mengalami penurunan harga pada Agustus, antara lain produk minyak bumi dan batubara yang turun 1,7% secara bulanan, serta produk pertanian, kehutanan dan perikanan yang turun 2,3%.

Baca Juga: Chelsea Segera Berganti Pemilik, Boehly dan Walter Jual Saham ke Clearlake

Tekanan harga produsen tersebut berpotensi menjadi perhatian BOJ karena kenaikan biaya di tingkat perusahaan dapat diteruskan kepada konsumen melalui harga barang dan jasa. Seberapa besar perusahaan meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada rumah tangga menjadi salah satu faktor yang akan menentukan arah inflasi konsumen dan kebijakan moneter berikutnya.

Reuters melaporkan, Jumat (11/9/2026), mengutip sumber, BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September mendatang menjadi 1,25%. Jika terealisasi, tingkat suku bunga acuan tersebut akan menjadi yang tertinggi dalam 31 tahun.

Sumber yang mengetahui rencana BOJ tersebut mengatakan, bank sentral Jepang juga dapat memberikan sinyal percepatan kenaikan suku bunga berikutnya apabila tekanan harga meningkatkan risiko inflasi melampaui target. Namun, BOJ diperkirakan tetap memilih kenaikan 25 basis poin dan kemudian menunggu data berikutnya untuk menilai apakah diperlukan kenaikan lebih lanjut.

Tekanan inflasi menjadi semakin penting karena BOJ memperkirakan inflasi konsumen akan kembali berada di atas target 2% dalam beberapa bulan mendatang. Dalam proyeksi kuartalan yang dibuat pada Juli, BOJ memperkirakan inflasi konsumen inti mencapai 2,5% pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027 dan 2,4% pada tahun fiskal berikutnya, sebelum melambat menjadi 2,0% pada tahun setelahnya.

Baca Juga: Trump Tolak Permintaan Putra Mahkota Saudi untuk Serang Houthi, Ini Pemicunya

Sumber Reuters tersebut juga menyebut kondisi ekonomi Jepang berada di jalur pemulihan moderat, sementara tekanan harga terus terbentuk. BOJ juga menilai kondisi keuangan akan tetap longgar meskipun suku bunga dinaikkan menjadi 1,25%.

Risiko inflasi juga datang dari harga energi. Penguatan yen dalam beberapa waktu terakhir memang berpotensi menekan biaya impor. Tetapi kenaikan harga minyak mentah Brent hingga di atas US$ 100 per barel menimbulkan kekhawatiran baru terhadap tekanan harga.

Kondisi tersebut membuat BOJ menghadapi dilema antara menjaga proses normalisasi kebijakan moneter dan memastikan inflasi tidak kembali meningkat terlalu jauh. Salah satu sumber mengatakan, inflasi dasar Jepang sudah mendekati 2%, sehingga BOJ perlu lebih memperhatikan risiko kenaikan harga.

Pasar juga telah sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September. Sejumlah pelaku pasar bahkan sempat memperkirakan BOJ dapat mengejutkan pasar dengan kenaikan 50 basis poin. Namun, analis menilai tidak terdapat risiko langsung terhadap lonjakan tajam pertumbuhan upah dan harga, sehingga kenaikan 25 basis poin dinilai lebih mungkin.