KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga pangan menjadi pemicu utama kenaikan inflasi pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan mencapai 0,30%, naik dari 0,20% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi juga meningkat menjadi 3,28% dari 3,19%. Tekanan harga terutama datang dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 0,88% secara bulanan dengan andil 0,36%.
Kenaikan harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar, diikuti cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, ikan segar dan kangkung.
Baca Juga: Inflasi Tahunan Naik Jadi 3,28%, Imbas Kenaikan Harga Ikan Segar hingga Cabai Rawit "Utamanya makanan, minuman, dan tembakau," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026). Ateng mengatakan, kenaikan inflasi tersebut sejalan dengan peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,97 pada Agustus menjadi 112,31 pada September. Dengan demikian, inflasi secara kumulatif sejak awal tahun telah mencapai 2,17%. Tekanan dari pangan juga terlihat secara tahunan. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mencatat inflasi 4,37% dengan andil 1,28% terhadap inflasi nasional. Ekonom Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai, kenaikan inflasi September masih terutama dipengaruhi tekanan dari sisi pasokan. Hal ini tercermin dari inflasi pangan bergejolak yang mencapai 5,03% secara tahunan, jauh di atas inflasi inti yang tercatat 2,84%. "Tekanan dari sisi pasokan masih menjadi pendorong utama," kata Faiz.
Baca Juga: Inflasi Agustus Naik Jadi 3,19%, Pjs Gubernur BI Destry: Harga Pangan Jadi PR Bersama Selain pangan, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok transportasi yang mengalami inflasi 4,84% secara tahunan dengan andil 0,58%. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 7,77% dengan andil 0,53%, terutama didorong kenaikan harga emas perhiasan. Kenaikan harga terjadi di seluruh 38 provinsi. Sulawesi Utara mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 7,59%, sedangkan Sumatra Selatan menjadi yang terendah dengan 2,55%. Perbedaan tekanan antarwilayah ini menunjukkan bahwa harga pangan dan sejumlah komoditas masih menjadi sumber penting tekanan inflasi. Ke depan, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama. Kenaikan harga pangan dan energi, pemulihan aktivitas manufaktur, peningkatan belanja pemerintah pada kuartal IV, serta volatilitas rupiah dapat menambah tekanan harga.
Baca Juga: Inflasi Tahunan Naik Jadi 3,19% di Agustus 2026, Didorong Makanan, Minuman & Tembakau Pelemahan rupiah juga berisiko meningkatkan harga barang dan bahan baku impor. Head of Macroeconomics and Market Research PermataBank Faisal Rachman memperkirakan inflasi 2026 berada di sekitar 3,13%. Risiko utama berasal dari dampak El Nino terhadap produksi pangan serta kenaikan harga energi global. Tekanan inflasi diperkirakan masih relatif tinggi pada semester I-2027 sebelum melandai ke bawah 3% pada akhir 2027, dengan perkiraan sekitar 2,94%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News