Inflasi Tembus Target BI, Bisa Naik Lagi Jika Konflik Geopolitik Berkepanjangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi tahunan (headline inflation) Indonesia meningkat menjadi 4,8% pada Februari, melampaui target Bank Indonesia (BI) untuk bulan kedua berturut-turut. Secara bulanan, indeks harga konsumen (IHK) naik 0,7% dibandingkan bulan sebelumnya.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Brian Lee Shun Rong, menjelaskan bahwa lonjakan inflasi terutama dipengaruhi oleh efek basis dari diskon tarif listrik pada periode yang sama tahun lalu.

“Inflasi kelompok perumahan dan utilitas melonjak menjadi 16,2% secara tahunan, dari 11,9% pada Januari, dan menyumbang sekitar 2,3 poin persentase terhadap inflasi headline,” ujar Brian dalam riset 3 Maret 2026.


Baca Juga: Seskab Teddy Umumkan THR ASN 2026 Sudah Cair, PNS Berkata Lain

Selain itu, faktor musiman Ramadan turut mendorong kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food) menjadi 12,7% dari 9,7% pada Januari. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara keseluruhan naik 3,5% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan 1,5% pada Januari.

Kenaikan inflasi juga didorong oleh sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang tumbuh 16,7% dari 15,2% pada Januari, seiring kenaikan harga emas global.

Di sisi lain, beberapa komponen IHK relatif stabil. Inflasi transportasi turun menjadi 0,1% dari 0,6% pada Januari akibat penurunan harga bahan bakar nonsubsidi. Inflasi inti naik tipis menjadi 2,6% dari 2,5% pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut ke level terendah dalam sembilan bulan, yakni US$ 954,3 juta pada Januari. Perlambatan pertumbuhan ekspor menjadi 3,4% dari 11,6% pada Desember terjadi di tengah percepatan impor yang melonjak 18,2% dari 10,8% pada Desember.

Perlambatan ekspor terutama disebabkan melemahnya pengiriman besi dan baja -0,1% serta penurunan ekspor batu bara yang semakin dalam -11,8%. Namun, ekspor manufaktur tetap solid, terutama mesin dan peralatan mekanis +28,4%, mesin dan perlengkapan listrik +16,3%, serta kendaraan +23,6%. Ekspor alas kaki melambat menjadi 0,7%, sedangkan minyak nabati dan hewani terutama kelapa sawit yang melonjak 46,1% secara tahunan.

Dari sisi impor, seluruh kategori utama mencatat penguatan. Impor barang modal naik 35,2%, diikuti barang antara 14,7%, dan barang konsumsi 11,8% tertinggi sejak April 2025. Kinerja ini sejalan dengan pertumbuhan penjualan ritel yang mencapai level tertinggi dalam 22 bulan sebesar 7,9% pada Januari.

Baca Juga: Cek Rekening, 3,8 juta Pensiunan ASN Dapat THR Idulfitri 2026, Hitung Nilainya

Brian menilai konflik Iran berpotensi meningkatkan risiko inflasi apabila berlangsung lama dan semakin eskalatif. Kenaikan biaya logistik, angkutan internasional, dan energi akibat gangguan jalur perdagangan serta lonjakan harga minyak dapat diteruskan ke konsumen domestik.

Sebagai negara net importir minyak dan gas, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah, yang dapat mendorong kenaikan harga pangan impor dan barang lainnya. Energi (BBM dan utilitas) memiliki bobot 11,5% dalam keranjang IHK.

APBN 2026 mengasumsikan harga minyak mentah rata-rata US$ 70 per barel. Jika harga bertahan di kisaran US$ 80 per barel atau lebih tinggi, tekanan terhadap fiskal akan meningkat dan berpotensi memicu penyesuaian subsidi BBM. Anggaran subsidi dan kompensasi energi kepada Pertamina dan PLN telah mencapai Rp 381,3 triliun pada 2026 atau 9,8% dari total belanja pemerintah.

Maybank Sekuritas mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% dan inflasi 2,8% pada 2026. Namun, risiko inflasi yang meningkat membuka kemungkinan penundaan pelonggaran moneter.

“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan menahan suku bunga pada bulan ini untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian geopolitik,” tulis Brian.

Baca Juga: Prabowo Sampaikan Surat Belasungkawa atas Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei

Dalam skenario dasar, BI masih berpotensi memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada paruh kedua tahun ini. Namun, jika harga minyak global melonjak berkepanjangan, tekanan inflasi dan pelemahan rupiah dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan.

Meski demikian, ekspor manufaktur dinilai tetap prospektif, didukung keunggulan tarif relatif dibanding China dan India serta kuatnya permintaan elektronik global seiring peningkatan belanja modal kecerdasan buatan (AI). Kelompok mesin dan perlengkapan listrik yang mencakup produk elektronik menyumbang sekitar 7% dari total ekspor barang pada kuartal IV tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News