Inflasi Toko Inggris Melandai, Tekanan Biaya Hidup Belum Usai



KONTAN.CO.ID - LONDON. Tekanan harga di tingkat ritel Inggris mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. British Retail Consortium (BRC) melaporkan inflasi harga toko secara tahunan turun menjadi 1,1% pada Februari 2026, lebih rendah dibandingkan 1,5% pada Januari. Angka ini memberi sedikit ruang bernapas bagi rumah tangga yang masih dibayangi krisis biaya hidup.

Chief Executive BRC Helen Dickinson mengatakan, pelambatan ini sebagai kabar baik bagi konsumen. “Rumah tangga mendapat sedikit kelegaan pada Februari karena inflasi harga di toko mereda. Namun, harga masih naik dan banyak konsumen tetap berada di bawah tekanan,” ujarnya dalam Reuters (3/3).

Secara rinci, inflasi pangan turun menjadi 3,5% secara tahunan dari 3,9% pada bulan sebelumnya. Bahkan, inflasi untuk makanan non-mudah rusak seperti produk kalengan merosot ke 2,3% terendah dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, harga barang non-pangan justru mencatat deflasi tipis 0,1% setelah sebelumnya naik 0,3% pada Januari.


Meski arah pergerakan inflasi tampak menjanjikan, risiko ke depan belum sepenuhnya reda. Pelaku ritel menghadapi potensi kenaikan biaya akibat regulasi baru di pasar tenaga kerja, yang dikhawatirkan akan kembali diteruskan ke harga jual. Dengan margin yang sudah tertekan, ruang bagi peritel untuk menyerap tambahan biaya dinilai terbatas.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Guncang Pasar, Indeks Saham Inggris Terkoreksi

Di sisi moneter, Bank of England terus mencermati perkembangan harga pangan karena komponen ini dinilai berpengaruh besar terhadap ekspektasi inflasi publik. Inflasi konsumen Inggris secara keseluruhan memang telah turun ke 3% pada Januari, terendah dalam hampir setahun, namun masih di atas target bank sentral.

Ancaman eksternal juga tak bisa diabaikan. Lonjakan harga energi global menyusul ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi kembali memicu tekanan biaya, terutama jika konflik berlarut. Dalam konteks tersebut, pelambatan inflasi ritel Februari bisa jadi baru sekadar jeda, bukan akhir dari tekanan harga.

Bagi konsumen Inggris, kabar baik ini masih bersifat sementara. Bagi pembuat kebijakan, ini adalah sinyal positif yang tetap perlu diiringi kewaspadaan tinggi terhadap dinamika global dan tekanan domestik yang belum sepenuhnya mereda.

Baca Juga: Trump Pasang Tarif 15%, Inggris Jadi Salah Satu Negara yang Paling Dirugikan

TAG: