Infrastruktur Gas Lamban, Pasar Ekspor Masih Jadi Tumpuan Blok Masela



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana peletakan batu pertama atau groundbreaking Blok Abadi Masela oleh Presiden Prabowo Subianto pekan ini mendapat sorotan. Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) menilai lambannya pembangunan infrastruktur gas di dalam negeri membuat serapan domestik belum optimal.

Sekretaris Jenderal IATMI, Hadi Ismoyo menyatakan bahwa pasar gas di tingkat global sejatinya memiliki prospek yang menjanjikan. Sentimen geopolitik di kawasan luar negeri dinilai ikut memengaruhi dinamika pasar energi global saat ini.

"Serapan LNG gas baik pasar domestik maupun pasar ekspor mempunyai prospek yang sangat baik. Apalagi Nota Perdamaian yang ditandatangani Iran dan US sangat rapuh dan buka tutup Selat Hormuz masih terjadi karena para pihak masih saling serang pada titik-titik strategis," ujarnya kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).


Baca Juga: Industri Baja RI Optimistis Semester II, Tapi Bayang-Bayang Impor Mengintai

Melihat porsi nasional, lanjut Hadi, serapan gas domestik berada di angka 65% sedangkan untuk pasar ekspor sebesar 35%. Menurutnya, pasar domestik sebenarnya potensial jika pemerintah mengaktifkan kembali program konversi BBM dan LPG ke gas nasional.

"Kalau dilihat porsi nasional, serapan gas domestik sekitar 65% sedangkan 35% pasar ekspor. Pasar domestik bukan tidak ada serapan, namun karena lambannya pembangunan infrastrukture gas dalam negeri. Dengan mengaktifkan kembali program konversi BBM ke Gas, konversi LPG gas, maka akan tercipta pasar gas domestik yang dahsyat sekali," jelasnya.

Di samping itu, Hadi meniliat, tantangan non-teknis terbesar pada proyek blok Masela ada pada penyelesaian Gas Sales Agreement (GSA). Pemerintah melalui SKK Migas diminta mendorong Inpex beserta BUMN seperti PLN, PGN, dan Pupuk Indonesia agar segera mengesahkan komitmen final tersebut.

"Sebagaimana diketahui projek gas tergantung adanya GSA. So far, sampai saat ini baru ada HoA artinya tugas berat Inpex dan SKK Migas untuk mendorong segera adanya GSA. Kebanyaka dari mereka adalah pasar domestik PLN, PGN dan Pupuk Indonesia. Pemerintah harus membantu mendorong agar BUMN tersebut segera menyelesaikan GSA," pungkasnya.

Sebelumnya, proyek ladang gas raksasa Abadi Masela di Maluku menyandang status Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditargetkan memasuki tahap konstruksi tahun 2027.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mendorong percepatan proyek tersebut agar hambatan investasi yang pernah terjadi tidak terulang kembali. Sejumlah tahapan penting telah menunjukkan perkembangan positif, termasuk proses Front End Engineering and Design (FEED).

"Blok Abadi Masela ini puluhan tahun tertunda, tidak selesai-selesai, nah setelah akhirnya sudah ada keputusan, sudah ada kajian, saya kasih tahu Inpex untuk segera jalan. Sekarang alhamdulillah sudah jalan. Tahun 2027 konstruksi," ujarnya beberapa waktu lalu.

Baca Juga: PGEO Perluas Bisnis Panas Bumi ke Green Hydrogen dan Sektor Industri

Blok Masela merupakan salah satu aset gas bumi terbesar yang dimiliki Indonesia saat ini. Pemerintah menargetkan proyek yang dioperasikan oleh Inpex Corporation bersama mitra ini dapat mulai berproduksi pada periode 2029-2030 guna memperkuat ketahanan energi nasional. 

"Tahun 2029 hingga 2030, sudah bisa berproduksi, dan itu salah satu yang terbesar di Indonesia," kata Bahlil. 

Dalam kunjungan kenegaraan bersama Presiden Prabowo Subianto ke Jepang pada Maret 2026, Bahlil mendapat arahan untuk mempercepat dua agenda utama, yakni investasi transisi energi dan penyelesaian proyek strategis Blok Masela.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Bahlil mengundang CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda, untuk membahas percepatan pengembangan Blok Masela.

Proyek dengan nilai sekitar US$ 20 miliar ini menjadi salah satu proyek energi terbesar yang tengah didorong pemerintah. Dalam pertemuan tersebut, Takayuki Ueda menyampaikan komitmen INPEX untuk mempercepat penyelesaian Proyek Abadi Masela. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News