Infrastruktur Logistik Jatim Siap Dukung Hilirisasi Tambang dan Migas



KONTAN.CO.ID - SURABAYA. Program hilirisasi sektor pertambangan dan minyak dan gas bumi (migas) tidak hanya bergantung pada pembangunan smelter maupun kilang. Di balik proyek-proyek bernilai triliunan rupiah tersebut, terdapat mata rantai penting yang menentukan kelancaran arus barang dari hulu hingga hilir, yakni sektor logistik.

Mulai dari pengangkutan material konstruksi, baja, pipa, hingga peralatan berat, seluruh proses pembangunan fasilitas hilirisasi sangat bergantung pada konektivitas pelabuhan, jaringan jalan, kawasan industri, serta layanan logistik yang terintegrasi. 

Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menilai Provinsi Jawa Timur saat ini memiliki fondasi yang kuat untuk mendukung percepatan program hilirisasi nasional.


Menurutnya, kombinasi antara pelabuhan internasional, kawasan industri, serta penyedia jasa logistik yang berpengalaman menjadi keunggulan kompetitif yang dimiliki provinsi tersebut. "Secara umum, konektivitas kawasan industri dengan pelabuhan di Jawa Timur sudah terbangun dengan baik," kata Sebastian kepada KONTAN, Senin (29/6/2026).

Sebagai salah satu gerbang logistik nasional, Jawa Timur tidak hanya mengandalkan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Sejumlah pelabuhan internasional kini telah terintegrasi dengan kawasan industri, seperti terminal di kawasan Maspion Industrial Estate di Gresik maupun kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) yang dikelola PT Berlian Manyar Sejahtera (Pelindo) bersama AKR Corporindo.

Baca Juga: Spindo (ISSP) Genjot Sustainability Lewat Penambahan PLTS untuk Tekan Biaya Produksi

Selain itu, pengembangan Lamongan Shorebase semakin memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat logistik industri nasional. Kehadiran sejumlah pelabuhan internasional di pesisir utara Jawa Timur memberikan alternatif bagi pelaku usaha dalam menentukan jalur distribusi yang paling efisien sesuai kebutuhan proyek.

Sebastian menjelaskan, kapasitas pelabuhan di Jawa Timur saat ini telah mampu melayani kapal berukuran besar maupun aktivitas bongkar muat berbagai jenis komoditas, mulai dari curah, general cargo hingga kebutuhan proyek-proyek industri berskala besar.

"Kalau dari sisi pelabuhan, baik untuk bongkar muat pipa, baja maupun peralatan proyek lainnya, kami melihat kapasitasnya sudah memadai. Tidak ada persoalan berarti. Infrastruktur pelabuhan di Surabaya, Gresik hingga Lamongan sudah siap mendukung kebutuhan industri," katanya.

Tantangan Bergeser ke Konektivitas Darat

Meski infrastruktur pelabuhan dinilai telah siap, Sebastian menilai tantangan logistik kini bergeser ke aspek konektivitas darat yang menghubungkan pelabuhan dengan kawasan industri.

Menurutnya, beberapa kawasan industri masih membutuhkan pembangunan jalan akses maupun koneksi langsung menuju jalan tol agar distribusi barang menjadi lebih efisien.

Ia mencontohkan, kawasan industri di Gresik relatif telah memiliki akses yang baik. Namun sejumlah kawasan industri di Mojokerto maupun Sidoarjo masih memerlukan tambahan ruas jalan serta peningkatan konektivitas menuju jaringan tol.

"Saat ini yang perlu diperkuat adalah konektivitas menuju kawasan industri. Jangan sampai barang harus memutar jauh atau bercampur dengan lalu lintas perkotaan karena itu akan menambah biaya logistik," ujarnya.

Sebastian menambahkan, konsep logistik modern tidak lagi berhenti pada aktivitas bongkar muat di pelabuhan. Yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana menciptakan sistem end-to-end logistics, mulai dari pelabuhan hingga barang tiba di lokasi pabrik maupun proyek secara cepat, aman, dan efisien.

Efisiensi Menjadi Penentu Jalur Distribusi

Dalam mendukung proyek hilirisasi, efisiensi biaya menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan jalur logistik yang digunakan.

Sebastian menjelaskan bahwa setiap proyek memiliki karakteristik berbeda sehingga pemilihan pelabuhan, moda transportasi, maupun jalur distribusi akan sangat dipengaruhi oleh lokasi pabrik, jarak pengiriman, serta biaya angkut.

Baca Juga: Pabrik Unit 7 Spindo Segera Beroperasi, Kapasitas Produksi Diproyeksi Meningkat

"Perusahaan tentu akan menghitung jalur mana yang paling efisien. Ongkos angkut sangat dipengaruhi oleh jarak distribusi dan kondisi infrastruktur yang tersedia," jelasnya.

Selain kesiapan infrastruktur, kemampuan penyedia jasa logistik juga menjadi aspek yang tidak kalah penting. Banyak proyek hilirisasi, khususnya di sektor migas dan pertambangan, mensyaratkan perusahaan logistik memiliki sertifikasi khusus sebelum dapat menangani pengangkutan material proyek.

Sebastian mengatakan, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam ALFI Jawa Timur telah memiliki pengalaman menangani berbagai proyek strategis, mulai dari pengangkutan material migas, pertambangan, perpipaan hingga peralatan industri berukuran besar.

Saat ini ALFI Jawa Timur memiliki sekitar 500 perusahaan anggota yang bergerak di sektor logistik darat, laut, dan udara. Jaringan tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memenuhi kebutuhan logistik proyek-proyek hilirisasi yang terus berkembang di berbagai daerah.

Sinkronisasi Regulasi Dinilai Tak Kalah Penting

Selain pembangunan infrastruktur fisik, Sebastian menilai keberhasilan hilirisasi juga ditentukan oleh harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Menurutnya, kebijakan lintas kementerian perlu memiliki arah yang selaras agar proses investasi maupun distribusi barang tidak terkendala oleh perbedaan aturan administrasi maupun perizinan.

Ia juga berharap pemerintah semakin aktif melakukan sosialisasi kebijakan kepada pelaku usaha sehingga implementasi regulasi dapat berjalan lebih efektif.

"Kami berharap pemerintah pusat maupun daerah memiliki visi yang sama dalam mendukung hilirisasi. Regulasi antar-kementerian juga harus saling terintegrasi sehingga pelaku usaha lebih mudah menjalankan kegiatan logistik," katanya.

Baca Juga: Spindo (ISSP) Dukung Hilirisasi Lewat Pasokan Pipa untuk Proyek Infrastruktur & Migas

Sebastian turut mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah yang terus mendorong hilirisasi nasional. Menurutnya, keberadaan kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan industri yang dilengkapi pelabuhan sendiri, hingga berbagai fasilitas kepabeanan menjadi stimulus penting bagi pertumbuhan industri manufaktur di Tanah Air.

Dengan dukungan infrastruktur pelabuhan yang semakin lengkap, jaringan perusahaan logistik yang berpengalaman, serta pengembangan kawasan industri yang terus berlanjut, Jawa Timur dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu tulang punggung logistik nasional dalam mendukung percepatan program hilirisasi tambang dan migas.

Ke depan, penyelesaian konektivitas darat dan sinkronisasi regulasi menjadi pekerjaan rumah yang perlu dipercepat agar efisiensi logistik dapat semakin meningkat dan daya saing industri nasional terus menguat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News