KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Babcock International Group bersama Pemerintah Inggris dan mitra Indonesia meresmikan Maritime Partnership Programme (MPP). Program ini bukan kesepakatan baru, melainkan bagian dari implementasi kerja sama maritim Indonesia–Inggris senilai £4 miliar yang telah diteken pada November 2025. Kemitraan tersebut mencakup sektor pertahanan, perikanan, hingga penguatan industri maritim nasional, termasuk pembangunan kapal dan pengembangan teknologi.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan program ini menjadi bagian dari percepatan modernisasi sektor perikanan nasional.
Baca Juga: KKP Gandeng E-Commerce, Dorong Literasi Digital & Keuangan Pengelola Kampung Nelayan Pemerintah, katanya, tengah mendorong pembangunan sistem terintegrasi yang mencakup armada tangkap modern, logistik efisien, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Program ini dirancang sebagai sistem terintegrasi yang menggabungkan teknologi, logistik efisien, dan tenaga kerja tersertifikasi,” ujar Trenggono dalam peluncuran UK-Indonesia MPP di Jakarta, Kamis (23/4/2026). Saat ini, pemerintah menyiapkan pembangunan sekitar 1.582 kapal perikanan dengan ukuran 30 hingga 500 GT. Kapal-kapal tersebut akan dilengkapi teknologi seperti
fish finder dan sistem pemantauan, serta diproduksi di galangan dalam negeri setelah melalui evaluasi bersama mitra Inggris. Menurutnya, modernisasi ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas nelayan sekaligus memperbaiki kualitas hasil tangkapan agar mampu bersaing di pasar global. Ia juga menargetkan implementasi berjalan cepat, dengan kapal pertama diharapkan sudah beroperasi dalam 12 bulan ke depan.
Baca Juga: KKP Catat Ekspor Perikanan Tembus Rp 16,7 Triliun hingga Jelang Lebaran 2026 Selain sektor perikanan, kerja sama juga mencakup pembangunan kapal militer, termasuk fregat yang tengah dikerjakan di dalam negeri sebagai bagian dari penguatan perlindungan wilayah maritim. Trenggono menekankan bahwa penguatan maritim tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga ketahanan pangan dan pengembangan industri. “Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, penguatan kapasitas maritim di Indonesia tidak hanya tentang keamanan, tetapi juga meningkatkan produktivitas perikanan dan memajukan industri maritim nasional,” katanya. Sejumlah proyek mulai dijalankan. Di sektor pertahanan, kerja sama diarahkan pada penguatan kapabilitas fregat melalui program Arrowhead 140. Sementara di sisi industri, PT Len Industri dilibatkan dalam pengembangan teknologi sistem maritim dan pertahanan, dan PT Citra Shipyard untuk penjajakan pembangunan kapal dan rantai pasok. Chief Executive Babcock International Group, David Lockwood, menegaskan komitmen jangka panjang perusahaannya di Indonesia. Ia menyebut kerja sama ini sebagai bagian dari investasi berkelanjutan di sektor maritim. “Kami berkomitmen jangka panjang untuk berinvestasi pada masyarakat Indonesia, industri Indonesia, dan masa depan Indonesia sebagai negara maritim terkemuka,” ujar Lockwood.
Baca Juga: KKP Fasilitasi UMKM Perikanan Tembus Retail Modern lewat Business Matching 2026 Senada, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menambahkan bahwa MPP merupakan bentuk konkret dari kemitraan strategis kedua negara yang telah disepakati sebelumnya. “Program ini menunjukkan bagaimana hubungan internasional yang kuat dapat memberikan manfaat berupa lapangan kerja, peluang, dan pertumbuhan,” kata Jermey.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang Inggris di Indonesia, Ian Betts, menilai kolaborasi ini juga akan mendorong pengembangan industri lokal melalui transfer keterampilan dan teknologi. Selain proyek fisik, kerja sama diperluas ke pengembangan sumber daya manusia. Melalui kerja sama ini, Babcock menandatangani empat nota kesepahaman strategis dengan universitas dan mitra industri, termasuk komitmen pendanaan pendidikan berupa 30 beasiswa Chevening bagi mahasiswa Indonesia dalam tiga tahun ke depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News