Ini 3 kiat Indonesia ciptakan tenaga kerja unggul



JAKARTA. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat meraih 6-8% per tahun, sementara Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita diprediksi mencapai US$ 7000 pada 2019. Ini dapat membuat posisi Indonesia naik menjadi middle-middle income country. Kenaikan PDB didukung dengan stabilitas ekonomi, sosial, dan perkembangan ekonomi di masa mendatang menjadikan Indonesia sebagai potensi ekonomi yang besar. Namun, menurut Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana, Indonesia patut fokus pada 3 hal dalam menyiapkan penduduk Indonesia menjadi tenaga kerja yang unggul.

"Pertama, peningkatan partisipasi angkatan kerja. Kedua, peningkatan partisipasi perempuan. Ketiga, peningkatan produktivitas kerja," ujar Armida di Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta (26/3). Pada periode 2010-2030, Indonesia tengah menikmati bonus demografi, yakni menurunnya proporsi penduduk tidak produktif usia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun serta meningkatnya proporsi penduduk produktif usia 15-64 tahun. Untuk memaksimalkan partisipasi angkatan kerja tersebut, pendidikan dinilai solusi yang paling tepat. Selain itu, partisipasi perempuan dalam dunia kerja juga harus ditingkatkan. Salah satunya dengan cara mencapai Total Fertility Rate (TFR) sebesar 2,1. "Partisipasi perempuan perlu mendapat penekanan karena berpotensi besar meningkatkan leverage perekonomian nasional," ujar Armida. Soal peningkatan produktivitas tenaga kerja, Indonesia dinilai perlu bergegas mengingat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di 2015 akan membuka peluang bagi tenaga kerja terampil untuk bekerja di Indonesia. Optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) digadang sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan pekerja Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Hendra Gunawan