Ini 3 skenario pandemi virus corona mereda di Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga saat ini, puncak bahkan akhir pandemi virus corona baru di Indonesia masih sangat samar. Sementara jumlah kasus positif dan kematian akibat Covid-19 di negara kita terus bertambah.

Ikatan Alumni (Iluni) Departemen Matematika Universitas Indonesia (UI) membuat model untuk menghitung waktu pandemi virus corona mereda. Model ini dibuat Barry Mikhael Cavin, Rahmat Al Kafi, Yoshua Yonatan Hamonangan, dan Imanuel M Rustijono.

Data yang mereka gunakan untuk simulasi adalah kasus kumulatif selama 2-29 Maret 2020 yang situs kawalcovid19.id publikasikan. Model yang mereka pakai merupakan beberapa kuantitas pada model SIRU, yakni Infected dan unreported case.


“Kami harus menghitung angka yang bukan hanya positif corona (infected) tapi juga unreported. Kami meyakini banyak orang yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala," kata Imanuel Manginsela Rustijono, Wakil Ketua ILUNI Matematika UI.

Baca Juga: Kemenhub rekomendasikan pembatasan moda transportasi di Jabodetabek

"Di Indonesia berdasarkan hitungan kami, kasus unreported lebih banyak dibanding infected,” ujar Imanuel kepada Kompas.com, Rabu (1/4).

Perhitungan yang para peneliti lakukan merujuk pada fungsi laju antarmanusia. Tiga skenario mereka buat berdasarkan kebijakan signifikan dan tegas dalam mengurangi interaksi antarmanusia, seperti kebijakan work from home dan physical distancing.

Skenario 1

Skenario 1 berlaku bila per 1 April 2020 tidak ada kebijakan signifikan dan tegas dalam mengurangi interaksi antarmanusia. Kegiatan berjalan seperti biasa tanpa ada langkah pencegahan.

Dengan skenario ini, peneliti memperkirakan, puncak pandemi akan terjadi pada 4 Juni 2020, dengan 11.318 kasus baru dan akumulasi kasus positif mencapai angka ratusan ribu. Pandemi mereka proyeksikan mereda pada akhir Agustus–awal September 2020.

Baca Juga: Kepala BKPM Bahlil Lahadalia minta investor produksi alat kesehatan secara massal

Skenario 2

Skenario 2 berlaku jika per 1 April 2020 kebijakan sudah ada namun kurang tegas dan strategis dalam mengurangi interaksi antarmanusia.

“Sepertinya skenario ini yang paling mungkin terjadi jika kondisi saat ini dilanjutkan. Juga, masyarakat tidak disiplin mengimplementasikan physical distancing,” tutur Imanuel.

Editor: S.S. Kurniawan