Ini Alasan Cisadane Sawit Raya (CSRA) Masih Fokus Garap Pasar Domestik



KONTAN.CO.ID - TAPANULI SELATAN. Hingga akhir tahun 2023, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) masih akan fokus menggarap pasar dalam negeri khususnya untuk penjualan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) mereka. 

Jika melansir dari laporan keuangan perseroan, segmen geografis penjualan memang masih bersifat nasional, khususnya untuk kawasan Sumatera, yaitu Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.

Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis CSRA Seman Sendjaja mengatakan ada beberapa alasan perseroan masih akan fokus pada pasar dalam negeri dibandingkan dengan ekspor. 


Alasan pertama adalah soal konsumen atau pembeli produk CPO mereka yang mayoritas berada di Sumatera. Tercatat beberapa konsumen CPO perseroan seperti PT Wilmar Nabati Asahan, PT Tri Bahtera, PT Gasing Sawit Abadi dan PT Pacific Palmindo Industri.

Baca Juga: Laba Bersih Elnusa (ELSA) Naik 40% hingga Kuartal III

“Karena sentra refinery (pemurnian) CPO di Indonesia itu adalah Sumatera Utara (Sumut), kemudian di Riau khususnya di Dumai, Jakarta sama Surabaya,” ungkapnya belum lama ini.

Sementara untuk di Kalimantan, Seman mengatakan sentra refinery sudah ada beberapa namun kuantitasnya masih lebih sedikit dibandingkan pasar Sumatera. 

“Dan kita tak mungkin jual CPO dari Sumatera ke Kalimantan, kita pasti jualnya ke Dumai, ada juga ke Palembang. Tapi Palembang punya barang pun (CPO) bisaya dibawa ke Jakarta, Surabaya, atau ke Medan,” ungkapnya. 

Alasan kedua, karena khusus CSRA, Seman menjelaskan bahwa konsumen perseroan adalah perusahaan refinery dengan hasil akhir minyak goreng.

“Sementara fokus ke daerah itu (Sumut-Sumsel) karena konsumen kita kan refinery atau pabrik minyak goreng. Dan sentra minyak goreng terbesar di Indonesia sekarang itu dipegang Dumai, Riau,” tambahnya. 

Terkait ekspor, dalam waktu dekat Seman mengungkap bahwa perseroan belum ada strategi untuk menjajal pasar luar negeri, meskipun tidak menutup kemungkinan di masa yang akan datang. Menurutnya pula, untuk memenuhi pasar ekspor, CSRA harus bisa memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar daripada yang dimiliki sekarang. 

Sebagai informasi, per-September ini CSRA sudah memproduksi CPO sebanyak 35.900 ton. Jumlah ini naik 31% jika dibandingkan produksi CPO di periode yang sama tahun lalu yaitu sebanyak 27.400 ton. 

Baca Juga: Strategi Cisadane Sawit Raya (CSRA) Siasati Efek Samping Penurunan Harga CPO

Sementara di sisa kuartal tahun ini yaitu kuartal IV, perseroan mengharapkan total produksi CPO dapat tembus 45.000 hingga 50.000 ribu ton.

Kemudian, terkait anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) di tahun 2023, perseroan menyediakan dana senilai Rp 180 miliar. Dan lewat September 2023, capex yang digunakan sudah sebesar Rp 130 miliar. 

Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Tapanuli Selatan (Tapsel), overhaul PKS di Labuhan Batu, penanaman land bank di Sumsel, pembangunan infrastruktur serta sarana prasarana kebun dan program mekanisasi panen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi