Ini alasan perbankan melirik sektor perikanan



JAKARTA. Bisnis sektor perikanan perlahan mulai dilirik perbankan guna menyalurkan kredit dan permodalan. Sektor perikanan yang dilirik adalah, penambak udang bandeng di Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Hal ini pun disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo di Jakarta, Selasa (4/12).  Sharif bilang, usaha perikanan saat ini sudah memiliki risiko rendah sehingga, ada alasan perbankan untuk  mengucurkan dana segar.

“Sektor perbankan sudah menyatakan ketertarikannya, bahkan kemarin ketika acara fisheries and aquaculture investment fair,  kami berhasil menggandeng lima perbankan nasional,” kata Sharif dalam siaran persnya yang diterima KONTAN.


Kelima perbankan yang dimaksud Sharif itu adalah perbankan pelat merah, yakni; Bank Rakyat Indonesia(BRI), Bank Negara Indonesia(BNI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara(BTN), Bank Syariah Mandiri.

Bahkan menurutnya, pihak BTN sudah menyatakan komitmen membantu mendanai revitalisasi tambak di Kabupaten Serang senilai Rp 40 miliar.

Menguatnya kepercayaan perbankan itu, menurut Sharif, terjadi setelah pemerintah menunjukkan hasil usaha perikanan sebagai usaha yang memiliki risiko rendah. Menurunnya risiko turut didukung dengan penggunaan model plastik mulsa pada tambak budidaya.

“Kegiatan usaha di tambak itu pasti ada risikonya, namun kami berhasil menurunkan risiko itu dengan menggunakan teknologi plastik mulsa supaya penyakit dari tanah tidak menginfeksi ikan,” jelas Sharif.

Selain itu, KKP berniat untuk membantu penambak dengan menyiapkan bantuan pakan, probiotik, infrastruktur, rehabilitasi saluran premier dan tersier termasuk pula teknologi pengolahannya.

Seperti diberitakan sebelumnya, KKP telah me-launching revitalisasi tambak udang dan bandeng dengan total lahan seluas 1.500 ha.  Lahan itu diperuntukkan untuk tambak udang seluas 1000 ha dan 500 Ha untuk bandeng. 

Kegiatan tambak percontohan itu tersebar di enam kabupaten yakni Serang, Tangerang, Karawang, Indramayu, Subang, dan Cirebon. “Insya Allah dengan kegiatan revitalisasi ini, diharapkan bisa meningkatkan produktivitas tambak dari semula 0,5 ton per ha per ton (tambak tradisional) menjadi 15 ton per ha per ton (tambak intensif) ,” jelasnya.

Sebagai gambaran, untuk luasan areal demfarm 1.000 Ha, dengan pemberian input sarana produksi standar teknologi intensif dengan plastik mulsa, ditargetkan bisa menghasilkan udang sebanyak 15 ton per ha per ton per musim tanam dengan nilai Rp 750 juta, atau 15.000 ton untuk 1.000 Ha dengan nilai Rp. 750 miliar per tahun (asumsi harga udang Rp. 50.000/kg).

Dengan demikian, jika musim tebar benih dilakukan sebanyak 3 kali setahun, maka hasilnya bisa mencapai Rp. 2,25 triliun. Sedangkan untuk demfarm bandeng, dengan luasan areal 500 Ha, akan dapat menghasilkan bandeng sebanyak 1.125 ton dengan nilai Rp. 16,8 Miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Asnil Amri