Ini Dampak Putusan FTSE Russel ke Pasar Saham di Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan FTSE Russel dianggap bisa mengurangi sentimen buruk di pasar saham Indonesia, meskipun laju pergerakannya tak akan begitu kencang.

Asal tahu saja, FTSE Russel mempertahankan status pasar saham Indonesia di emerging market dan memutuskan tidak memasukkan pasar saham Indonesia ke watchlist.

Melansir pengumuman pada Rabu (7/10/2026) pagi, FTSE Russell menjelaskan, akan terus memantau secara cermat reformasi integritas pasar modal di Indonesia. 


Baca Juga: IHSG Turun 0,80% ke 6.097 Sesi I, Top Losers LQ45: GOTO, CUAN, WIFI, Kamis (8/10)

Menyusul penundaan perubahan indeks tertentu untuk Indonesia pada tinjauan indeks bulan Maret, Juni, dan September 2026, FTSE Russell sedang mengevaluasi efektivitas langkah-langkah reformasi yang baru saja diterapkan dalam mendukung transisi yang tertib dan stabil kembali ke proses tinjauan indeks standar.

“Hal itu telah diuraikan dalam FAQ FTSE Russell mengenai Perlakuan terhadap Efek Indonesia,” tulis pengumuman tersebut.

Lembaga pemeringkat global itu menilai Indonesia telah menerapkan berbagai reformasi pasar, termasuk peningkatan keterbukaan informasi bagi pemegang saham, perluasan kategori klasifikasi investor, persyaratan free float minimum, serta peningkatan perangkat pengawasan pasar. 

Langkah-langkah ini ditujukan untuk mengatasi kekhawatiran yang sebelumnya teridentifikasi terkait transparansi dan replikabilitas data. 

“FTSE Russell akan terus memantau penerapan dan efektivitas langkah-langkah tersebut serta berinteraksi dengan para pelaku pasar untuk menghimpun masukan,” ungkapnya

Lebih lanjut, FTSE Russell mengaku akan memberikan informasi terkini mengenai perlakuan terhadap sekuritas Indonesia menjelang tinjauan indeks bulan Desember 2026. 

Langkah ini dilakukan dengan mempertimbangkan kemajuan reformasi pasar serta masukan yang diterima dari para pemangku kepentingan. 

Asal tahu saja, Indonesia ada dalam list Secondary Emerging bersama dengan Chile, China, Kolombia, Mesir, Islandia, India, Kuwait, Filipina, Qatar, Romania, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), dan Vietnam.

Baca Juga: IHSG Turun 6,96% pada September, EBC Soroti Aturan Baru dan Aksi Jual Asing

Co-Founder Alphagate Capital dan Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan Henry Wibowo mengatakan, keputusan FTSE mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List sebagai perkembangan yang positif. 

Faktor yang paling penting sebenarnya bukan hanya statusnya tidak berubah. Tetapi, bahwa setelah berbagai concern terhadap transparansi dan struktur pasar Indonesia tahun ini, FTSE menilai belum ada alasan untuk menempatkan Indonesia dalam jalur potensi downgrade.

Dari sisi pasar, ini dapat mengurangi salah satu tail risk yang selama beberapa bulan terakhir membebani risk premium Indonesia. 

“Namun, keputusan FTSE saja belum cukup untuk membalikkan arus dana asing secara signifikan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).

Menurut Henry, foreign flow ke depan tetap sangat tergantung pada kombinasi valuasi, arah rupiah, suku bunga global, earnings growth dan kredibilitas kebijakan domestik.

Jadi dampak terdekat dari keputusan FTSE Russell ini lebih kepada mengurangi alasan investor asing untuk keluar, dibanding langsung menciptakan gelombang foreign inflow baru.

Sayangnya, untuk menarik foreign investor kembali secara lebih struktural.

“Investor perlu melihat bukan hanya kepastian mengenai indeks, tetapi juga stabilitas rupiah, perbaikan earnings, likuiditas saham yang cukup besar, serta governance dan transparansi pasar yang konsisten,” tuturnya.

Meskipun FTSE merupakan sinyal yang konstruktif, tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bahwa keputusan MSCI November 2026 mendatang pasti akan sama.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 15.000 Jadi Rp 2.565.000 per Gram Kamis (8/10)

Menurut Henry, FTSE dan MSCI mempunyai metodologi serta feedback investor yang berbeda. MSCI sendiri pada Juni dan Juli masih menyatakan bahwa mereka mempertahankan freeze untuk kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), kenaikan Number of Shares, penambahan saham baru ke IMI serta migrasi naik antar-size segment untuk saham Indonesia. 

MSCI juga secara eksplisit menyatakan akan mengevaluasi kembali perlakuan terhadap Indonesia menjelang review November. 

“Yang menurut saya paling menentukan untuk MSCI bukan pengumuman kebijakan baru lagi, tetapi evidence of implementation,” paparnya.

Menurut Henry, Indonesia sebenarnya sudah melakukan reformasi yang cukup material. Misalnya, keterbukaan kepemilikan saham di atas 1%, pengungkapan High Shareholding Concentration (HSC), klasifikasi investor yang jauh lebih granular, serta kenaikan minimum free float menjadi 15% secara bertahap. 

Pertanyaan MSCI sekarang adalah apakah data tersebut secara konsisten membuat mereka dan investor institusi global mampu mengidentifikasi real free float, beneficial ownership, konsentrasi kepemilikan dan potensi coordinated trading dengan lebih baik.

Oleh karena itu, keputusan unfreeze saham Indonesia oleh MSCI pada November nanti masih mungkin.

Namun, probabilitas unfreeze akan sangat bergantung pada apakah MSCI mendapatkan bukti bahwa reformasi tersebut sudah efektif dalam praktik, bukan sekadar telah diterbitkan secara regulasi.

“Jika MSCI sampai mengakhiri atau secara bertahap melonggarkan freeze, itu berpotensi menjadi katalis yang lebih besar bagi pasar karena membuka kembali kemungkinan peningkatan FIF, inclusion dan upward migration saham Indonesia dalam indeks MSCI,” paparnya.

Baca Juga: Rupiah Spot Dibuka Menguat ke Rp 17.873 per Dolar AS, Kamis (8/10)

Untuk akhir 2026 sampai 2027, pasar Indonesia akan memasuki fase di mana stock selection kemungkinan jauh lebih penting daripada sekadar membeli indeks.

Selain sentimen FTSE dan MSCI, ada beberapa faktor besar yang perlu diperhatikan. Pertama, arah rupiah dan kebijakan Bank Indonesia (BI). Kedua, arah suku bunga dan yield Amerika Serikat (AS). Ketiga, harga minyak karena Indonesia merupakan net oil importer.

Keempat, pertumbuhan ekonomi dan konsumsi domestik. Kelima, trajectory fiskal pemerintah. Terakhir, pertumbuhan laba emiten.

Saat ini stabilitas rupiah juga menjadi salah satu variabel terpenting. BI masih harus menyeimbangkan kebutuhan mendukung pertumbuhan dengan menjaga stabilitas currency dan capital flow. 

“Pada saat yang sama, harga minyak global yang tinggi juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi inflasi, fiskal dan current account Indonesia,” paparnya.

Secara sektor, investor perlu mencermati perusahaan dengan tiga karakteristik, yaitu balance sheet kuat, earnings visibility tinggi, dan likuiditas/free float yang baik.

Baca Juga: IHSG Dibuka Turun ke 6.140, Top Losers LQ45: AADI, MAPI, ANTM, Kamis (8/10)

Sektor bank-bank besar tetap menarik apabila stabilitas rupiah dan cost of fund membaik. Sebab, sektor ini menawarkan likuiditas dan kualitas franchise yang dibutuhkan investor institusi asing.

Consumer juga menarik secara selektif jika daya beli dan konsumsi domestik membaik. Lalu, sektor komoditas dan energi, tetapi harus lebih selektif karena volatilitas harga komoditas cukup tinggi. 

“Selain itu, perusahaan yang mempunyai cash flow kuat, leverage rendah dan governance yang baik akan mendapat premium lebih besar dalam environment seperti sekarang,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News