Ini dampak wabah virus corona bagi Sharp Electronics Indonesia



KONTAN.CO.ID - BELITUNG. Wabah virus corona yang berawal dari China dan telah menyebar ke berbagai negara mendapat perhatian tersendiri dari produsen barang elektronik, PT Sharp Electronics Indonesia.

Assistant General Manager Marketing Communications Sharp Electronics Indonesia Agus Soewardji mengaku, kontribusi China terhadap proses produksi barang-barang elektronik yang dihasilkan perusahaan cukup besar. Terutama untuk panel LED yang masih dipasok secara impor dari negara lain, salah satunya China.

Proses pengangkutan bahan baku produksi Sharp Electronics Indonesia dari China pada dasarnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu dengan menggunakan kapal kargo. Dengan adanya wabah corona, maka akan ada proses karantina selama beberapa pekan. Alhasil, secara keseluruhan waktu pengangkutan barang dari China bisa mencapai satu bulan.


Baca Juga: Sharp Electronics Indonesia incar pendapatan Rp 11 Triliun tahun ini

"Kalau virus tidak kunjung mereda, kami mesti cari penyuplai dari negara lain yang harganya juga kompetitif seperti China," ujar Agus kepada Kontan.co.id, Sabtu (15/2).

Di sisi lain, Agus melihat virus corona belum mempengaruhi penjualan produk-produk elektronik Sharp Electronics Indonesia. Justru menurutnya secara tidak langsung ada peningkatan permintaan produk Air Purifier dari konsumen selama beredarnya isu virus corona.

Air Purifier sendiri merupakan produk pembersih udara dalam ruangan. Alat ini memiliki generator yang dapat menghasilkan ion positif dan ion negatif untuk meminimalisir keberadaan bakteri dan virus.

Agus menyatakan, pada dasarnya produk Air Purifier Sharp Electronics Indonesia tidak memiliki sertifikat sebagai pembasmi virus corona. Alat ini pun sebenarnya bukan untuk mematikan virus, melainkan hanya berfungsi untuk melumpuhkan virus. Jadi, virus tersebut tidak bisa berkembang biak.

Baca Juga: Panasonic rilis produk water purification system, dibanderol Rp 9 jutaan

"Kami belum tahu Air Purifier ini ampuh terhadap Corona atau tidak karena belum ada penelitiannya dan virus tersebut juga masih baru. Tapi harus diakui banyak yang tertarik pada produk ini mungkin sebagai tindakan antisipasi konsumen," ungkap dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari